Pasar Djadoel Ahad Legi Tawun Sedot Ribuan Pengunjung
Tetap Eksis Walau Bukan Libur Panjang, Pasar Djadoel Ahad Legi Tawun Sedot Ribuan Pengunjung dan Putar Roda Ekonomi
NGAWI – sadap99.com
Riuh rendah suara pembeli beradu dengan aroma menggugah selera dari beragam kuliner tradisional yang memenuhi kawasan Taman Wisata Tawun, Ngawi, pada Minggu pagi, 24 Mei 2026. Meski digelar di hari biasa dan tidak bertepatan dengan momentum libur panjang atau long weekend, gelaran Pasar Djadoel Ahad Legi terbukti tak kehilangan pesonanya. Sejak pukul 06.00 WIB, ribuan pengunjung dari berbagai daerah tampak memadati lokasi, bagaikan semut yang bergerak hilir mudik. Antusiasme ini menjadi bukti nyata bahwa agenda rutin ini telah bertransformasi menjadi tradisi wisata budaya yang selalu dinanti masyarakat luas.
Salah satu kemudahan yang kini sangat dirasakan pengunjung adalah pelayanan di pintu masuk. Antrean panjang yang dulu kerap terjadi kini jauh lebih terurai berkat penerapan sistem tiket elektronik atau e-ticketing. Teknologi ini tak hanya mempercepat akses masuk, tetapi juga membuat pengunjung lebih nyaman karena tak perlu lagi menunggu lama untuk menikmati suasana tempo dulu yang ditawarkan di dalam kawasan wisata yang rindang dengan pepohonan bambu tersebut.
Wiwien Purwaningsih, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Ngawi, dalam wawancara khusus di lokasi acara, menyampaikan rasa bangganya atas pencapaian ini.
“Kami sangat mengapresiasi antusiasme masyarakat yang tetap tinggi meskipun hari ini bukan libur panjang. Ini membuktikan bahwa Pasar Djadoel Ahad Legi telah menjadi daya tarik utama yang punya kekuatan sendiri, tidak bergantung pada hari libur saja,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya penerapan sistem baru tersebut.
“Penerapan e-ticketing ini bukan sekadar soal kemudahan, tapi bagian dari komitmen kami mewujudkan transparansi. Setiap pemasukan tercatat langsung dan akurat, sehingga Pendapatan Asli Daerah benar-benar terhimpun utuh untuk pembangunan daerah. Ini adalah bentuk modernisasi pariwisata yang tetap menjaga nilai-nilai budaya lokal,” tambahnya.
Begitu melangkahkan kaki masuk, pengunjung seolah dibawa kembali ke masa lalu. Suasana nostalgia begitu kental terasa, diperkuat oleh para pedagang yang ramah melayani pembeli dengan balutan busana adat bermotif lurik. Berbagai sajian kuliner lawas menjadi incaran utama, mulai dari sego tiwul, cenil, sego jagung, hingga dawet yang segar. Menariknya, bagi sebagian besar pengunjung, ketiadaan libur panjang justru menjadi keuntungan tersendiri. Mereka bisa menikmati suasana dengan lebih syahdu, nyaman, dan lebih leluasa tanpa harus berdesakan ekstrem seperti saat musim liburan tiba.
Salah satu pengunjung, Siti Aminah (38), warga Ngawi, mengaku sengaja datang karena ingin menikmati suasana yang lebih tenang.
“Biasanya kalau libur panjang sangat padat, susah bergerak. Hari ini ramai tapi tetap nyaman. Suasananya kuno, makanannya enak, dan sekarang masuknya juga gampang pakai tiket digital. Sangat puas sekali,” ungkapnya dengan senyum bahagia.
Pendapat senada disampaikan oleh Bapak Slamet (45), seorang pedagang kuliner tradisional yang sudah ikut sejak awal gelaran ini.
“Alhamdulillah, meski bukan hari libur, dagangan kami tetap habis. Pengunjungnya banyak, perputaran uangnya cepat. Acara ini sangat membantu kami warga sekitar untuk menambah penghasilan. Semoga terus berlanjut dan makin maju,” ujarnya bersemangat.
Selain memberikan kenyamanan, penerapan digitalisasi melalui e-ticketing ini juga menjadi langkah nyata pemerintah daerah dalam mewujudkan tata kelola yang lebih baik. Di sisi keuangan, sistem ini menjamin transparansi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Karena tercatat secara real-time, setiap rupiah yang masuk dari penjualan tiket dipastikan masuk ke kas daerah tanpa potensi kebocoran. Inovasi ini pun menjadi percontohan keberhasilan modernisasi pengelolaan objek wisata yang tetap berakar pada nilai budaya.
Di balik keindahan pelestarian tradisi dan kemajuan sistem pelayanannya, Pasar Djadoel Ahad Legi kembali membuktikan diri sebagai motor penggerak ekonomi yang sangat andal bagi warga lokal. Ratusan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang terlibat melaporkan bahwa dagangan mereka ludes terjual hanya dalam hitungan jam. Perputaran uang bergerak sangat cepat dan dinamis, mencakup berbagai sektor mulai dari kuliner, kerajinan tangan, hingga retribusi parkir yang dikelola masyarakat setempat.
Berdasarkan catatan yang ada, omzet yang berhasil dikumpulkan dari transaksi pedagang pada gelaran kali ini mencapai kurang lebih Rp40.500.000,-. Angka ini menjadi bukti kuat bahwa penyelenggaraan pasar di hari Minggu biasa pun tetap sukses besar. Hal ini menegaskan bahwa dengan manajemen yang semakin modern, transparan, dan akuntabel, Pasar Djadoel Ahad Legi bukan lagi sekadar acara musiman. Lebih dari itu, agenda ini kini telah menjadi urat nadi perekonomian Desa Tawun, Ngawi, yang terus berdenyut kencang dan konsisten membawa kesejahteraan bagi masyarakat sekitarnya.
(Deni Marmem)
