FoodHOMEJATIM

Sokong Program Prabowo, Kota Mojokerto Kini Miliki 28 SPPG Berkapasitas 2.500 Penerima Manfaat

MOJOKERTO – sadap99.com

Pemerintah Kota Mojokerto bergerak cepat dalam mengawal standarisasi program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Guna menjamin mutu dan kualitas makanan yang disajikan kepada masyarakat, jumlah Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) di wilayah setempat kini resmi dilebarkan dari yang semula hanya 17 titik menjadi 28 SPPG.

Ekspansi ini sekaligus mendongkrak kapasitas layanan hingga mampu menyasar 2.500 penerima manfaat secara berkala.

“Mari kita jaga bersama-sama dan kita awasi bersama pelaksanaan program besar ini,” tegas Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari—yang akrab disapa Ning Ita—saat meresmikan fasilitas SPPG Wates di Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto.

Dalam kesempatan tersebut, Ning Ita memberikan apresiasi tinggi terhadap manajemen SPPG Wates. Fasilitas ini dinilai kooperatif karena bersedia mengikuti arahan tim verifikasi untuk melakukan relokasi area dapur demi mengejar standar operasional prosedur (SOP) secara maksimal.

Kejar Standar Kelayakan Demi Indonesia Emas 2045

Ning Ita menekankan bahwa ketatnya standar kelayakan operasional dapur merupakan harga mati dalam pelaksanaan MBG di Kota Mojokerto, Jawa Timur. Menurutnya, program strategis yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto ini memikul misi besar untuk mengikis persoalan gizi sekaligus mempersiapkan fondasi kokoh menuju Indonesia Emas 2045.

“Demi menjamin agar amanah mulia Bapak Presiden dalam menyehatkan anak-anak Indonesia ini berjalan mulus, maka seluruh SPPG yang bertugas memproduksi makanan wajib mengantongi dan memenuhi standar kelayakan operasional tanpa pengecualian,” ujarnya lugas.

Picu Sirkular Ekonomi Lewat Koperasi Merah Putih

Menariknya, implementasi program MBG di Kota Mojokerto tidak berjalan sendiri. Pemerintah daerah sengaja mengawinkan program pemenuhan gizi ini dengan sektor prioritas lainnya, seperti Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih serta penguatan ketahanan pangan lokal.

Sinergi lintas sektor ini diharapkan mampu menciptakan efek domino berupa perputaran roda ekonomi (circular economy) yang kuat di tingkat akar rumput.

Nantinya, SPPG akan bertindak sebagai penyerap hasil bumi dengan menggandeng Koperasi Merah Putih. Koperasi inilah yang bertugas mengoordinasi pasokan bahan pangan langsung dari kelompok tani, pembudidaya ikan, hingga peternak lokal di sekitar wilayah operasional.

“Jika program-program ini saling mengunci dan bertautan, maka sirkular ekonomi akan terbentuk dengan sendirinya di masing-masing wilayah terkecil (kelurahan). Jadi, dari warga, oleh warga, dan untuk warga,” pungkas Ning Ita optimis.

pewarta: red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *