Siap untuk Selamat: Pemprov Jatim Latih Warga Lumajang Hadapi Tsunami
LUMAJANG, sadap99.com
Jawa Timur memiliki garis pantai panjang dan populasi pesisir padat, sehingga risiko terhadap ancaman megathrust—gempa besar berpotensi tsunami—sangat tinggi. Warga di kawasan rawan diperkirakan menjadi pihak yang paling terdampak.
Bencana alam tak hanya merusak fisik, tetapi juga menimbulkan kerugian ekonomi dan sosial: rumah rusak, infrastruktur hancur, pendapatan hilang, produktivitas terganggu, serta risiko kesehatan meningkat. Kerugian ini berpotensi melumpuhkan ekonomi, memperbesar angka kemiskinan, dan membebani biaya pemulihan jangka panjang.
Kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci utama pengurangan risiko bencana, karena merekalah yang pertama kali menghadapi situasi darurat. Edukasi dan simulasi rutin berperan penting dalam mengubah pengetahuan menjadi perilaku tanggap darurat yang otomatis, guna meminimalkan korban jiwa dan kerusakan.
Sejalan dengan peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional setiap 26 April, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur menggelar simulasi evakuasi mandiri tsunami di Pantai Bulu, Desa Tegalrejo, Kecamatan Tempursari, Kabupaten Lumajang pada 25–26 April 2026. Kegiatan diawali dengan sosialisasi dan edukasi masyarakat tentang gempa dan tsunami.
Momen ini diharapkan mampu menumbuhkan budaya sadar bencana dan kesiapsiagaan di seluruh lapisan masyarakat. Dengan pelatihan simulasi, masyarakat tidak hanya paham tentang bencana, tetapi juga mampu mengambil langkah strategis untuk bertahan hidup (survive) dan mengurangi dampak.
Andhika Nurrahmad Sudigda, ST, M.Si., Sekretaris BPBD Jatim, menegaskan bahwa budaya sadar bencana seharusnya menjadi gaya hidup. “Ilmu evakuasi mandiri ini bisa ditularkan kepada keluarga dan tetangga,” tegasnya.
Simulasi ini juga diharapkan memperkuat kerja sama antarwarga, pemerintah, dan relawan. Bencana adalah urusan semua orang; tak ada yang bisa berdiri sendiri. Semua harus saling menjaga dan melindungi.
Nyono, Kepala Desa Tegalrejo, mengaku simulasi tsunami sangat bermanfaat. “Supaya kami tahu dan belajar agar siap menghadapi darurat, serta bisa melakukan evakuasi mandiri,” ujarnya usai pelaksanaan.
Skenario simulasi:
Gempa berkekuatan magnitudo 9,1 terjadi di titik 10.13 LS – 112.96 BT, kedalaman 10 km, pukul 09.00 WIB. Goncangan terasa hingga Desa Tegalrejo. Selang 26 menit kemudian, perangkat desa menerima informasi dari BMKG Stasiun Geofisika Malang bahwa gempa berpotensi tsunami. Perangkat desa segera mengumumkan ancaman tsunami melalui pengeras suara dari musala sekitar. Warga keluar rumah dan berlari menuju zona aman (blue zone) di kaki Gunung Kursi.
Simulasi diikuti 300 orang dari berbagai jenjang usia, termasuk kelompok perempuan dan rentan (lansia, disabilitas, anak-anak). Desa berpenduduk sekitar 3.690 jiwa ini dikelilingi pegunungan dan berada di pesisir selatan Jatim, menjadikannya kawasan paling terpencil di Kabupaten Lumajang.
Ricko Kardoso, Kepala BMKG Stasiun Geofisika Malang, menjelaskan bahwa letak Desa Tegalrejo tegak lurus dengan sumber gempa megathrust. Berdasarkan pemodelan tsunami, desa ini berpotensi mengalami gempa hingga 6 MMI (bangunan rusak) dan rendaman tsunami setinggi 15 meter sejauh sekitar 3 km dari pantai. “Kondisi ini butuh respons cepat. Masyarakat harus mampu evakuasi mandiri karena waktu kritis (golden time) untuk menyelamatkan diri hanya sekitar 20 menit,” tuturnya.
Sebelumnya, BPBD Jatim telah menggelar simulasi tsunami di Pantai Balekambang (Malang), Demak (Tulungagung), Watu Karung (Pacitan), serta secara bersamaan di Pantai Ngadipuro (Trenggalek). Secara keseluruhan, terdapat 60 titik berisiko tsunami di sepanjang pesisir selatan Jatim.
Simulasi ini didukung Pemerintah Australia melalui Program SIAP SIAGA, Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan, Tim Reaksi Cepat BPBD, petugas kesehatan, dan Unit Layanan Disabilitas Penanggulangan Bencana (ULD-PB) Lumajang.
Christine Bui, perwakilan Konsulat Jenderal Australia di Surabaya, mengapresiasi kegiatan inovatif dan kolaboratif ini. “Dengan kegiatan multipihak, pemahaman masyarakat dalam merespons gawat darurat dapat menguat. Apalagi ada inisiatif membentuk buddy system atau menunjuk pemimpin di setiap lingkungan sebagai penanggung jawab,” paparnya.
Mambaus Suud, Program Partnership Implementation Manager SIAP SIAGA Provinsi Jatim, menambahkan bahwa pemerintah desa perlu membuat mekanisme evakuasi hingga tingkat dusun. “Setiap dusun menunjuk satu penanggung jawab untuk mengidentifikasi sumber daya yang bisa dioptimalkan saat evakuasi,” terangnya.
Koordinasi yang jelas dan terintegrasi sangat diperlukan, mulai dari tingkat desa, kecamatan, hingga kabupaten. Fungsi diseminasi peringatan dini dan evakuasi harus diperjelas, serta disediakan area evakuasi alternatif untuk mengantisipasi kekacauan saat evakuasi.
Inisiatif ini diharapkan memperkuat semua pihak untuk saling berbagi pembelajaran, menguji sistem peringatan dini, jalur evakuasi, mekanisme koordinasi antarlebaga, serta memperkuat solidaritas sosial dan budaya kesiapsiagaan berkelanjutan.
Pada akhirnya, melalui inisiatif cerdas ini, masyarakat Jawa Timur diharapkan semakin siap, tangguh, dan mampu merespons ancaman bencana secara cepat dan tepat—sehingga semua bisa selamat saat bencana terjadi. (*)
