JATIM

Pemkab Jember dan DPUBM Provinsi Jatim Petakan Kerusakan Infrastruktur Pascabanjir

JEMBER – sadap99.com

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember bersama Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga (DPUBM) Provinsi Jawa Timur mulai memetakan kerusakan infrastruktur pascabanjir yang melanda wilayah tersebut akibat curah hujan ekstrem dalam beberapa hari terakhir.

Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Jember, Akhmad Helmi Luqman, bersama jajaran Satgas Infrastruktur dan Tata Ruang meninjau langsung sejumlah titik lokasi yang terdampak parah. Langkah ini dilakukan untuk mempercepat pemulihan infrastruktur dan memastikan keselamatan ribuan warga yang terdampak.

Sejumlah jembatan rusak akibat banjir yang ditinjau pada Minggu (15/2/2026) antara lain Jembatan Cinta di Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi; Jembatan Merah Putih di Desa Pakis, Kecamatan Panti; dan Jembatan Sentool di Desa Suci, Kecamatan Panti.

Dalam tinjauannya, Helmi mengungkapkan bahwa bencana banjir kali ini merupakan salah satu yang terparah dalam kurun waktu lebih dari 10 tahun terakhir. Berdasarkan data sementara, curah hujan tinggi telah berdampak pada lebih dari 7.000 kepala keluarga (KK) di berbagai wilayah Kabupaten Jember.

Pemkab Jember saat ini tengah fokus melakukan pemetaan menyeluruh terhadap kerusakan fasilitas publik. Helmi menegaskan bahwa sejumlah infrastruktur vital mengalami kerusakan serius.

“Kami meninjau semua titik, baik infrastruktur desa, kabupaten, maupun provinsi. Semuanya dipetakan untuk menentukan skala prioritas penanganan. Kami akan berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk percepatan perbaikan ini,” ujar Helmi.

Menindaklanjuti instruksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Pemkab Jember menetapkan masa siaga darurat bencana hingga 26 Februari 2026. Hal ini disebabkan potensi cuaca ekstrem yang diprediksi masih akan berlangsung hingga akhir bulan.

“Pesan dari Ibu Gubernur sudah jelas, Jember menjadi prioritas untuk perbaikan infrastruktur terdampak. Kami meminta masyarakat tetap waspada dan saling bahu-membahu dalam menghadapi situasi ini,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas PU Bina Marga Jawa Timur, Edy Tambeng Widjaja, yang turut melakukan peninjauan, menyatakan bahwa pihaknya tengah memetakan tingkat kerusakan untuk menentukan langkah perbaikan selanjutnya. Ia mengungkapkan bahwa dampak banjir kali ini cukup signifikan, terutama pada jembatan-jembatan dengan bentang yang luas. Salah satu titik terdampak parah ditemukan di wilayah Jombang, di mana sebuah jembatan besar mengalami kerusakan serius.

Edy menjelaskan bahwa secara teknis, konstruksi jembatan yang ada sebenarnya tidak memiliki masalah fundamental. Namun, fenomena alam berupa debit air yang sangat tinggi melampaui kapasitas desain jembatan menjadi pemicu utama robohnya struktur tersebut.

“Rata-rata jembatan kita posisinya rendah. Ketika hujan turun dengan durasi lama dan intensitas deras, debit air meningkat drastis hingga terjadi overtopping atau air meluap melampaui lantai jembatan, yang kemudian menyeret konstruksinya hingga roboh,” jelas Edy.

Sebagai langkah evaluasi, Dinas PU Bina Marga Jawa Timur mempertimbangkan untuk menambah ketinggian jembatan pada proses pembangunan kembali nantinya. Hal ini dilakukan guna meminimalisir risiko serupa di masa depan, mengingat pola cuaca yang semakin sulit diprediksi.

Mengenai target penyelesaian, Edy menekankan bahwa timnya masih melakukan pengecekan mendalam terhadap komponen vital jembatan.

“Kami akan melihat dulu di lapangan secara detail. Jika harus ganti, ya kami ganti. Setelah semua data terkumpul, segera kami laporkan kepada Ibu Gubernur untuk langkah eksekusi ke depan,” tandasnya.

Pewarta: Suyanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *