Dr Karel Martinus Siahaya, SH, M.Th, M.H.,M.Sn.: Pesparawi, Panggung atau Mezbah?
Yogyakarta – Sadap99.com
Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) dilaksanakan setiap tiga tahun sekali. Kegiatan ini berlangsung secara bergilir di semua provinsi di Indonesia. Di tengah gemerlapnya Pesparawi, muncul sebuah pertanyaan mendasar: apakah kita (umat Kristen) sedang memuliakan Tuhan, atau sekadar memenangkan penilaian?
Demikian pernyataan Dr. Karel Martinus Siahaya, M.Th.Dr Karel Martinus Siahaya, SH, M.Th, M.H.,M.Sn, Dosen Liturgika STAK Teruna Bhakti Yogyakarta sekaligus Juri Nasional Pesparawi XIV, kepada media pada Senin, 4 Mei 2026.
Pesparawi XIV tahun 2026 akan diselenggarakan di Manokwari, Papua. Menjelang pelaksanaannya, semua kontingen dari berbagai wilayah mengadakan latihan dengan durasi yang cukup lama dan melelahkan. Olah vokal dan teknik terus dipoles dengan tekad untuk tampil terbaik agar harmoni terdengar indah. Namun, di balik itu terselip persoalan: ketika pujian dinyanyikan dalam format lomba, apakah ia tetap menjadi doa, atau berubah menjadi pertunjukan? tutur Martinus Siahaya.
Pertanyaan di atas tidak hanya penting bagi gereja, tetapi juga bagi publik yang hidup dalam budaya kompetisi. Dalam arus tersebut, Pesparawi berisiko bergeser dari ruang perjumpaan iman menjadi panggung evaluasi artistik. Padahal sejak awal, Pesparawi adalah perayaan iman. Di sanalah musik gereja menemukan kedalamannya sebagai bahasa rohani. Ketika dimensi ini terabaikan, yang tersisa hanyalah keindahan tanpa makna, tutur dosen Liturgika STAK Teruna Bhakti Yogyakarta ini.
Lebih lanjut, Karel Martinus Siahaya mengatakan Pesparawi perlu dikembalikan pada esensinya sebagai mezbah, bukan sekadar panggung. Yang dicari bukan hanya suara yang selaras, tetapi hati yang sejalan. Persoalan utamanya bukan teknis, melainkan eksistensial. Teknik itu penting, tapi hanya sarana. Sebab tanpa kedalaman rohani, keindahan musikal menjadi kosong, ujarnya.
Bagi para peserta Pesparawi, latihan bukan sekadar membentuk suara, tetapi membentuk hidup. Harmoni bukan hanya keselarasan nada, melainkan latihan kerendahan hati.
Pemazmur berkata: “Aku hendak memuji Tuhan pada segala waktu” (Mazmur 34:2a).
Dalam kerangka tersebut, para juri menjadi penentu arah. Apa yang dinilai akan membentuk tujuan. Jika yang diutamakan hanya presisi teknis, maka peserta hanya akan mengejar performa. Namun, jika juri memberi ruang bagi penghayatan, ketulusan, dan kedalaman, Pesparawi dapat melampaui logika lomba, tutur Karel Siahaya.
Dimensi ini memang tidak terukur. Ia tidak hadir dalam rangka, melainkan dalam kepekaan—membedakan mana nyanyian yang sekadar terdengar, dan mana yang sungguh-sungguh berbicara.
Menurut Dr. Karel Martinus Siahaya, M.Th., kompetisi tidak perlu dihapus, tetapi harus ditempatkan secara tepat sebagai sarana, bukan tujuan. Ia mendorong kualitas, tetapi tidak untuk menggantikan makna, ujarnya.
Saat Pesparawi Nasional diselenggarakan di Manokwari nanti, ribuan suara akan bersatu. Namun yang menentukan bukan hanya harmoni yang terdengar, melainkan arah yang dihidupi. Tanpa itu, Pesparawi tetap memukau, tetapi kehilangan doanya, pungkasnya.
(Piter)
