HOMEHUKRIMJATIM

Dugaan Penyelewengan BBM Masif di Pasuruan, Wartawan Diduga Diintimidasi Oknum Ormas

PASURUAN, Sadap99.com

Seiring kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi yang ditetapkan pemerintah pusat, dugaan praktik penyelewengan dan penyalahgunaan BBM bersubsidi kian masif terjadi di wilayah Kabupaten Pasuruan. Praktik culas yang disinyalir melibatkan modus pengisian berulang (helikopter) ini terendus oleh wartawan asal Sidoarjo, Candra, pada Senin (20/7/2026).

Namun, alih-alih mendapat akses keterbukaan informasi, upaya investigasi Candra untuk membongkar dugaan kecurangan tersebut justru berujung pada tindakan intimidasi dan pengepungan.

Terendusnya Modus Pengisian Berulang

Dugaan penyelewengan ini bermula saat Candra sedang beristirahat di salah satu SPBU di wilayah Kecamatan Wonorejo. Ia melihat satu unit mobil Toyota Kijang Kapsul berwarna cokelat tengah melakukan pengisian BBM. Awalnya, ia tak menaruh curiga pada aktivitas kendaraan tersebut.

Kejanggalan baru terungkap beberapa jam kemudian. Setelah melakukan penelusuran di wilayah Pasuruan, Candra berhenti di SPBU lain yang berada di Kecamatan Purwosari. Di lokasi ini, Candra terkejut lantaran mendapati mobil Toyota Kijang Cokelat yang sama kembali melakukan pengisian BBM.

Didorong rasa curiga atas dugaan modus pengisian BBM berulang pada armada yang sama, Candra berinisiatif menghampiri pengemudi mobil tersebut untuk melakukan konfirmasi. Dari pengakuan sang sopir, terkuak bahwa armada tersebut diduga milik dua warga Pasuruan berinisial FRN dan BND.

Upaya ‘Peredaman’ dan Iming-Iming Uang

Usai perbincangan tersebut, Candra diajak oleh pihak terkait ke sebuah rumah makan Padang untuk menunggu kehadiran pemilik kendaraan. Tak lama berselang, seorang pria tiba di lokasi dan mengaku sebagai sesama jurnalis untuk mendiskusikan temuan tersebut.

Komunikasi berlanjut secara informal di area depan Mapolsek Purwosari. Sebelum berpisah, oknum yang mengaku jurnalis tersebut mendadak menyerahkan uang sebesar Rp200.000 kepada Candra.

“Saya menerima uang tersebut karena mengira itu sekadar uang pengganti bensin,” ujar Candra saat memberikan keterangan.

Pengepungan, Intimidasi, dan Paksaan

Situasi mendadak memanas sekitar pukul 15.00 WIB. Candra yang saat itu berada di lokasi mendadak didatangi empat orang, yang dalam waktu singkat bertambah hingga sekitar sepuluh orang. Sebagian dari mereka mengaku berasal dari lembaga LPKSM SPR serta gabungan organisasi masyarakat (ormas) dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) lokal Pasuruan.

Merasa ada yang tidak beres dan menduga uang tersebut berkaitan dengan upaya pembungkaman, Candra berinisiatif mengembalikan uang Rp200.000 yang sempat diterimanya. Langkah tegas Candra ini justru menyulut reaksi keras dari kelompok tersebut.

Candra mengaku dihalangi, dipegangi secara fisik, dan dipaksa untuk menunjukkan serta menyerahkan kartu identitas kewartawanan (ID Card) miliknya untuk difoto di bawah tekanan.

“Saya mengembalikan uang itu karena merasa situasinya sudah tidak kondusif dan menyimpang. Namun, saya justru diintimidasi, dipegangi, dan dipaksa menyerahkan ID Card,” tegas Candra.

Desakan Penyelidikan APH

Hingga berita ini diturunkan, tim redaksi masih terus berupaya melakukan konfirmasi dan verifikasi lanjutan kepada pihak-pihak terkait, termasuk pengelola SPBU dan instansi berwenang, guna menjaga perimbangan informasi (cover both sides).

Laporan investigasi awal ini diharapkan dapat menjadi rujukan dan pintu masuk bagi Aparat Penegak Hukum (APH), khususnya jajaran Polres Pasuruan, untuk turun tangan mengusut tuntas dugaan peredaran dan penyelewengan BBM bersubsidi yang kian meresahkan di wilayah Kabupaten Pasuruan.

Pewarta: sp/tim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *