DIYHOMEPENDIDIKAN

STAK Teruna Bhakti Yogyakarta Mewisuda Lulusan Sarjana, Magister, dan Doktor

Yogyakarta – sadap99.com

Sekolah Tinggi Agama Kristen (STAK) Teruna Bhakti Yogyakarta menggelar Sidang Terbuka Senat Tahun 2026 untuk mewisuda lulusan program sarjana dan pascasarjana. Acara yang mengusung tema “Transformasi STAK Teruna Bhakti menuju STAKEN: Membangun Pemimpin Berintegritas bagi Gereja, Bangsa, dan Keutuhan Ciptaan” ini berlangsung di Merapi Merbabu Hotel, Babarsari, Depok, Sleman, Yogyakarta, pada Rabu (8/7/2026).

Sidang Terbuka Senat dipimpin oleh Ketua STAK Teruna Bhakti Yogyakarta, Dr. Johannis Siahaya, M.Th., M.Pd. Acara dihadiri oleh pengurus Yayasan Charista, para dosen, civitas akademika, tamu undangan, orang tua wisudawan, serta para wisudawan itu sendiri.

Dr. Johannis Siahaya dalam sambutannya menyampaikan bahwa jumlah lulusan yang mengikuti Wisuda ke-XIX Tahun Akademik 2026 terdiri dari:

· 15 orang Sarjana Teologi,
· 75 orang Sarjana Agama Kristen,
· 7 orang Magister Pendidikan Agama Kristen,
· 7 orang Magister Teologi, dan
· 15 orang Doktor Teologi.

Prosesi wisuda diawali dengan orasi ilmiah bertajuk “Suara Tanah dalam Narasi Alkitab: Dialog Teologi Biblika dengan Teologi Tanah Brueggemann”, yang disampaikan oleh Dr. Karel Martinus Siahaya, S.Th., S.H., Th.M., M.Th., M.H., M.Sn., M.I.Kom.

Dalam pemaparannya, Dr. Karel Martinus Siahaya menyampaikan bahwa saat ini kita hidup pada masa ketika bumi sedang menyampaikan pesan yang tidak dapat lagi diabaikan. Perubahan iklim, kerusakan hutan, pencemaran lingkungan, krisis air bersih, hilangnya keanekaragaman hayati, dan bencana ekologis yang kerap terjadi menunjukkan bahwa relasi manusia dengan alam sedang berada dalam titik yang mengkhawatirkan.

Menurut laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC 2023), aktivitas manusia menjadi faktor utama percepatan pemanasan global yang berdampak pada berbagai krisis lingkungan di seluruh dunia.

Dr. Karel menuturkan, tanah menurut Alkitab bukan sekadar objek yang dimanfaatkan manusia, melainkan bagian dari komunitas ciptaan yang hidup di bawah kedaulatan Allah. Dengan mendengarkan kembali suara tanah dalam kesaksian Kitab Suci, gereja dan lembaga pendidikan teologi diharapkan mampu membangun kesadaran ekologis yang berakar pada iman Kristen, serta menghadirkan tanggung jawab nyata dalam merawat keutuhan ciptaan di tengah krisis lingkungan yang semakin mendesak.

Dalam realitas masa kini, refleksi ini memiliki urgensi yang mendalam. Dalam perspektif iman Kristen, krisis ekologis tidak hanya dipahami sebagai akibat kesalahan kebijakan atau kegagalan pembangunan. Krisis ekologis pada dasarnya merupakan krisis relasi manusia dengan Allah, krisis relasi manusia dengan sesama, dan krisis relasi manusia dengan ciptaan yang mengalami keretakan akibat dosa dan keserakahan.

Dalam situasi ini, Alkitab menawarkan perspektif yang menarik dan sekaligus menantang. Ketika banyak orang memandang tanah hanya sebagai aset ekonomi atau sumber daya yang dapat dieksploitasi, narasi Alkitab menghadirkan pemahaman yang berbeda. Tanah dalam Alkitab bukan sekadar ruang geografis tempat hidup manusia, melainkan memiliki dimensi teologis yang sangat dalam. Tanah menerima manusia dari debunya, menopang kehidupan, menjadi tempat perjumpaan dengan Allah, bahkan digambarkan mampu merespons tindakan manusia, ujar dosen STAK Teruna Bhakti tersebut.

Lebih lanjut, Dr. Karel Martinus Siahaya menegaskan bahwa tanah dalam Alkitab tidaklah statis. Ia bergerak sebagai sebuah narasi besar (grand narrative) yang dimulai dari keharmonisan di Taman Eden, mengalami keretakan akibat dosa, namun terus melangkah menuju pemulihan kosmis dalam visi Yerusalem Baru. Perspektif inilah yang mendasari mengapa gereja masa kini harus melihat isu lingkungan bukan sebagai isu pinggiran, melainkan sebagai bagian integral dari keselamatan Allah, tuturnya.

Suara tanah yang kita dengar dalam Alkitab mengarahkan gereja kepada sebuah panggilan yang jelas: menjadi komunitas yang merawat kehidupan. Gereja dipanggil untuk menghadirkan Injil yang tidak hanya menyentuh hati manusia, tetapi juga memulihkan relasi manusia dengan bumi. Pendidikan teologi dipanggil membentuk pemimpin yang mampu menghubungkan iman dengan tanggung jawab ekologis.

Mengenai perjalanan panjang STAK Teruna Bhakti dalam proses transformasi menuju STAK Negeri (STAKEN), Dr. Karel menegaskan bahwa transformasi ini bukan sekadar perubahan status kelembagaan atau lompatan administratif semata, melainkan sebuah metamorfosis panggilan. “Kita sedang diteguhkan untuk menjadi institusi yang lebih luas dan berdampak, menjadi mitra strategis bagi gereja dan bangsa,” pungkasnya. (Piter)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *