Wisuda ke-XVIII STAK Teruna Bhakti Yogyakarta: Ekoteologi sebagai Fondasi Pendidikan Kristen di Era Digital
Yogyakarta – sadap99.com
Sekolah Tinggi Agama Kristen (STAK) Teruna Bhakti Yogyakarta kembali menggelar Wisuda XVIII tahun 2025 dengan mewisudai 114 orang lulusan program Sarjana, Magister, dan Doktor. Acara berlangsung di Hotel Merapi Merbabu Yogyakarta pada Rabu (26/11/2025).
Prosesi Wisuda ke-XVIII yang mengusung konsep Selebrasi Akademik ini merupakan wisuda kedua di tahun 2025. Sebanyak 114 wisudawan terdiri dari 17 Sarjana Teologi, 72 Sarjana Pendidikan Agama Kristen, 11 Magister Pendidikan Agama Kristen, 5 Magister Teologi, dan 9 Doktor Teologi.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Johannis Siahaya, M.Th., M.Pd., menyampaikan orasi ilmiah bertajuk “Ekoteologi sebagai Fondasi Pendidikan Kristen di Era Digital: Membangun Kearifan Iman, Ekologi Sosial, dan Moderasi Beragama dalam Transformasi Pendidikan Indonesia.”
Ketua STAK Teruna Bhakti Yogyakarta, Pdt. Johannis Siahaya, menuturkan bahwa tema ini lahir dari pergumulan mendalam terhadap konteks zaman yang dihadapi saat ini—sebuah era yang ditandai oleh dua realitas besar yang saling berkaitan.
“Pertama, krisis ekologi global dan transformasi digital yang masif. Kedua realitas ini bukan sekadar fenomena sosial-teknologis, melainkan tantangan teologis yang mendesak gereja dan lembaga pendidikan Kristen untuk merumuskan respons yang kreatif, informatif, dan kontekstual,” ujarnya.
Krisis Ekologis dan Transformasi Digital sebagai Tantangan Teologis
Data ilmiah menunjukkan bahwa aktivitas manusia telah menyebabkan peningkatan suhu global, pencairan es di kutub, kenaikan permukaan air laut, serta gangguan ekosistem yang mengancam keberlangsungan kehidupan di Bumi.
Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menegaskan bahwa tanpa tindakan mitigasi yang serius, dampak perubahan iklim akan semakin parah dan tidak dapat dipulihkan. Namun, krisis ini bukan hanya masalah sains dan teknologi, melainkan juga krisis moral dan spiritual yang mempertanyakan pandangan dunia kita tentang relasi manusia dengan alam.
Teologi Kristen, yang selama ini dituding sebagai salah satu akar eksploitasi alam melalui interpretasi dominion yang keliru, kini ditantang untuk merumuskan kembali visi teologis yang lebih holistik dan bertanggung jawab.
Bersamaan dengan krisis ekologi, transformasi digital telah mengubah lanskape kehidupan manusia secara fundamental. Internet, media sosial, kecerdasan buatan, dan teknologi informasi lainnya menciptakan ruang baru bagi interaksi manusia, pembelajaran, dan bahkan spiritualitas.

Membangun Teologi Rasional antara Allah, Manusia, dan Ciptaan
Ekoteologi atau teologi ekologis merupakan sebuah pendekatan teologis yang berupaya merumuskan pemahaman tentang relasi antara Allah, manusia, dan seluruh ciptaan dalam kerangka yang integral dan rasional.
Pendidikan Kristen di Era Digital
Era digital telah membawa perubahan paradigma dalam pendidikan, termasuk pendidikan Kristen. Teknologi informasi dan komunikasi menawarkan berbagai peluang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, seperti penggunaan multimedia interaktif, platform pembelajaran daring yang memungkinkan kolaborasi global, serta alat-alat digital untuk refleksi spiritual dan pelayanan.
Pendidikan Kristen di era digital menuntut literasi baru yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga etis dan teologis. Literasi digital dalam konteks Kristen mencakup kemampuan untuk mengolah informasi secara kritis dan bijaksana, membedakan informasi yang benar dan hoaks, mengevaluasi sumber informasi berdasarkan standar kebenaran Alkitabiah, serta membangun etika digital.
Moderasi Beragama sebagai Ekologi Sosial
Moderasi beragama merupakan salah satu agenda penting dalam konteks Indonesia yang majemuk dan multikultural. Kementerian Agama RI telah menjadikan moderasi beragama sebagai prioritas kebijakan untuk mencegah radikalisme, ekstremisme, dan intoleransi.
Dalam perspektif Kristen, moderasi beragama dipahami sebagai wujud ekologi sosial yang merawat harmoni, menghargai martabat manusia, dan melawan segala bentuk kekerasan serta diskriminasi.
(Ome)
