HOMEJATIM

Soroti Efektivitas Anggaran, Gus Fawait Raih Gelar Doktor di Unair

Jember – Sadap99.com

Bupati Jember, Muhammad Fawait (Gus Fawait), resmi menyandang gelar doktor dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (Unair), Jumat (12/6/2026). Melalui sidang promosi doktor tersebut, ia membawa isu krusial ke meja uji: merombak arah belanja pemerintah agar tidak sekadar menjadi instrumen “bagi-bagi bantuan”, melainkan motor utama pengentasan kemiskinan di Jawa Timur.

Disertasinya yang berjudul “Analisis Peran Belanja Pemerintah dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Provinsi Jawa Timur” mengkritik pola anggaran konvensional. Gus Fawait menegaskan bahwa pengelolaan APBD/APBN wajib berorientasi pada penciptaan kemandirian ekonomi, bukan sekadar pemenuhan kewajiban administratif.

Di hadapan tim penguji—termasuk para Guru Besar Unair dan mantan Gubernur Jawa Timur, Soekarwo—Gus Fawait membedah argumennya dengan lugas. Menurutnya, bantuan sosial (bansos) yang ada selama ini kerap terjebak pada aspek karitatif (bantuan sosial jangka pendek).

“Bantuan tidak boleh hanya berhenti sebagai bentuk kemanusiaan atau kepedulian sosial. Intervensi anggaran harus mendongkrak produktivitas nyata. Kita tidak bisa membiarkan usia produktif terus-menerus terjebak dalam sektor pekerjaan kasar. Mereka harus didorong ke sektor yang memiliki nilai tambah tinggi dengan penghasilan yang lebih layak,” tegas Gus Fawait.


Reorientasi Bansos dan Transformasi Tenaga Kerja

Gus Fawait menawarkan peta jalan baru: program hibah dan bansos wajib berjalan simultan dengan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Pelatihan kerja, lanjutnya, harus didesain berbasis kebutuhan riil pasar industri saat ini.

Salah satu fokus tajam dalam kajiannya adalah nasib Pekerja Migran Indonesia (PMI). Ia menilai pembenahan kompetensi sejak dari hulu lewat pelatihan taktis akan mengubah posisi tawar tenaga kerja Indonesia di pasar global, sehingga mampu mengamankan pendapatan yang jauh lebih tinggi.

Selain ketenagakerjaan, ia membidik program Perhutanan Sosial sebagai senjata ampuh pengentasan kemiskinan yang kerap luput dari perhatian optimal. Potensi besar ini seringkali mandek akibat lemahnya koordinasi birokrasi antarlini.

“Program strategis pusat seperti perhutanan sosial ini butuh eksekusi bersama yang solid antara gubernur dan bupati. Jika satu keluarga diberikan akses pengelolaan lahan hingga dua hektare secara produktif dan tepat guna, program ini bisa menjadi instrumen paling efektif untuk menyudahi kemiskinan di daerah,” jelasnya.


Kuncinya: Political Will dalam Budgeting

Namun, semua gagasan besar tersebut akan menjadi macan kertas tanpa adanya reformasi dalam perencanaan anggaran. Gus Fawait menekankan bahwa hulu dari segala kesejahteraan masyarakat berada pada ketepatan dan keberpihakan kebijakan fiskal daerah.

“Semua kembali pada sikap dan political will dalam proses budgeting. Di sanalah keberpihakan itu diuji, apakah anggaran benar-benar dikunci untuk program yang tepat sasaran atau tidak,” ujarnya.

Melalui penelitian mendalam ini, ia menyimpulkan bahwa indikator keberhasilan belanja pemerintah tidak boleh lagi diukur dari seberapa besar serapan anggaran yang habis terjual, melainkan seberapa luas lapangan kerja yang tercipta dan seberapa signifikan angka kemiskinan mampu ditekan secara berkelanjutan.

Menutup sidangnya, Gus Fawait tak lupa memberikan apresiasi kepada para tokoh yang telah meletakkan fondasi pembangunan di Jawa Timur.

“Sebagai bagian dari elemen pemerintahan di Jawa Timur, saya menghaturkan terima kasih atas kepemimpinan Pakde Karwo dan Ibu Khofifah. Sinergi ini akan terus kita bawa untuk tegak lurus mengawal program-program strategis dari pemerintah pusat,” pungkasnya.

Pewarta: Suyanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *