MADIUN MENARI: DARI MASYARAKAT, UNTUK KOTA MADIUN
5.000 Warga Bergerak, Satu Kota Menjadi Panggung Budaya
Madiun – sadap99.com
Sekitar 5.000 warga dari berbagai elemen masyarakat bergerak serentak dalam gelaran Madiun Menari 2026. Mengusung tema “Satu Kota, Satu Gerak, Satu Irama,” kegiatan ini menjadi ruang kolektif untuk mengenalkan, mencintai, dan melestarikan budaya Kota Madiun, Sabtu 29/8/26.
Madiun Menari lahir dari aspirasi masyarakat dan pelaku seni yang merindukan adanya wadah bersama untuk mempromosikan budaya lokal secara luas. Pemerintah Kota Madiun hadir sebagai fasilitator, bukan pengarah, agar gagasan ini dapat terwujud melalui partisipasi aktif warga.
“Madiun Menari bukan acara pemerintah untuk rakyat. Ini adalah gerakan rakyat untuk kotanya,” ujar Pelaksana Tugas (Plt.) Wali Kota Madiun, F. Bagus Panuntun.
Masyarakat menjadi kekuatan utama dalam kegiatan ini. Pemerintah menyediakan ruang dan dukungan, sementara warga menjadi penggerak sekaligus penjaga keberlanjutan budaya untuk kota mereka.
“Kota Madiun tidak sedang membuat acara. Kota Madiun sedang membangun gerakan budaya,” tegasnya.
Menurutnya, gerakan budaya tidak cukup hanya dengan menampilkan kesenian dalam sebuah pertunjukan. Budaya harus dikenalkan, dipelajari, dicintai, dan diwariskan agar tetap hidup dan tumbuh di tengah masyarakat.
“Kami tidak sekadar membuat acara besar. Kami sedang membangun kebanggaan warga terhadap kotanya melalui budaya,” imbuhnya.
Salah satu elemen penting dalam Madiun Menari 2026 adalah Tari Beksan Parisuko. Tarian ciptaan seniman lokal ini menjadi medium pengenalan dan pelestarian budaya, khususnya bagi generasi muda. Beksan Parisuko mengandung nilai-nilai luhur, seperti keindahan, kesuburan, rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, kehalusan budi pekerti, kesopanan, serta harmoni antara manusia, alam, dan lingkungan.
Melalui Madiun Menari, masyarakat tidak lagi sekadar menjadi penonton, tetapi turut serta menjaga dan menghidupkan gerak tari secara langsung. Diharapkan semangat ini terus berlanjut melalui sekolah, sanggar seni, komunitas, keluarga, dan berbagai ruang kreatif lainnya.
“Budaya akan terus hidup ketika masyarakat merasa memiliki, mau mempelajari, mencintai, dan mewariskannya kepada generasi berikutnya. Madiun Menari adalah milik masyarakat Kota Madiun,” tutupnya.
Madiun Menari membuktikan bahwa ruang kota dapat menjadi panggung ekspresi bersama. Ribuan warga dari beragam latar belakang hadir dan bergerak dalam satu irama, menjadikan Kota Madiun sebagai panggung budaya kolektif.
“Madiun Menari: 5.000 Warga Bergerak, Satu Kota Menjadi Panggung. Harapannya, ini menjadi awal tumbuhnya gerakan budaya yang terus hidup di tengah masyarakat,” pungkasnya.
Madiun Menari juga menjadi penanda dimulainya Spectra Night, ruang terbuka yang rencananya akan digelar rutin setiap bulan sebagai wadah masyarakat dan komunitas untuk berkegiatan secara positif, kreatif, dan edukatif.
Spectra Night diharapkan menjadi ruang bersama yang hidup, aman, tertib, serta mampu memperkuat interaksi sosial. Untuk menjaga kenyamanan ruang publik, kawasan Spectra Night tidak diperuntukkan bagi aktivitas berjualan. Pemerintah Kota Madiun telah menyiapkan lokasi khusus bagi pelaku UMKM dan pedagang di sejumlah titik, seperti Lapangan Gulun, Bundaran Taman, dan titik-titik strategis lainnya.
Dengan demikian, Madiun Menari bukan sekadar tentang ribuan orang yang menari dalam satu hari. Lebih dari itu, ini adalah cerminan masyarakat yang bergerak bersama, menghidupkan budaya, dan membangun kebanggaan terhadap kotanya.
(Edy)
