Desa Pulo “Meledak” dengan Wonderful Pulo Carnival
LUMAJANG, sadap99.com – Suara sound horeg yang menggelegar dari Desa Pulo, Kecamatan Tempeh, Kabupaten Lumajang, pada malam Jumat (25/9/2026), seolah menjadi tanda dimulainya pesta rakyat.
Dentuman musik yang menggema di tengah desa itu menjadi pembuka menuju gelaran yang telah dinanti masyarakat. Kegiatan tersebut juga dihadiri Camat Tempeh, jajaran Polsek, Koramil, serta tokoh masyarakat Desa Pulo.
Sehari berselang, Sabtu (26/9/2026), kemeriahan benar-benar pecah lewat gelaran “Wonderful Pulo Carnival” dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.
Bukan sekadar pawai biasa, karnaval ini menjadi panggung kreativitas warga Desa Pulo dengan menampilkan beragam kesenian dan budaya Indonesia yang dikemas secara meriah. Berbagai penampilan turut memeriahkan jalannya karnaval, mulai dari tarian tradisional hingga tarian modern. Para pelajar dan warga desa tampil dengan penuh semangat, mengenakan beragam kostum dan membawa kreasi masing-masing.
Antusiasme masyarakat pun terlihat sepanjang kegiatan. Kepala Desa Pulo, Jasadi, saat berada di panggung start sambil melihat warganya yang berbondong-bondong ingin menyaksikan iring-iringan peserta yang melintas, menjadikan suasana Desa Pulo semakin ramai dan semarak.
“Gelaran Wonderful Pulo Carnival bukan hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi ruang bagi warga, khususnya generasi muda, untuk menunjukkan kreativitas sekaligus mengenalkan kekayaan budaya bangsa,” kata Kades.
Semangat gotong royong dan kebersamaan juga begitu terasa dalam kegiatan tersebut. Dari persiapan hingga pelaksanaan, masyarakat Desa Pulo bersama-sama menyukseskan pesta rakyat dalam rangka memperingati 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.
Dengan kemeriahan yang ditampilkan, Wonderful Pulo Carnival sukses mengubah Desa Pulo menjadi pusat perhatian dan menghadirkan suasana perayaan kemerdekaan yang penuh warna, kreativitas, serta kebersamaan. (Bkt)
—
Catatan perubahan:
· Memperbaiki tanda baca dan kapitalisasi yang tidak konsisten.
· Menghilangkan frasa janggal seperti “Pengunjung, Bukan sekadar pawai biasa katanya sambil duduk melihat tarian” yang tampaknya merupakan sisipan tidak sesuai konteks, dan digantikan dengan kalimat yang runtut.
· Mengubah “Kata kades dalam hati” menjadi “kata Kades” agar sesuai kaidah penulisan berita.
· Merapikan penyebutan nama Kepala Desa (JASADI → Jasadi) sesuai kaidah penulisan nama.
· Memperbaiki “di pentas start” menjadi “di panggung start”.
