HOMEJATIMSENI BUDAYA

Dinobatkan Sebagai Desa Budaya, Desa Klungkung Sukorambi Sukses Gelar Ritual Sandorelang 2026

Jember – sadap99.com

Pemerintah Desa Klungkung bersama masyarakat, tokoh adat, dan Muspika Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember, kembali menggelar Ritual Tradisi Budaya “Sandorelang” pada Selasa pagi (16/6/2026).

Menurut Camat Sukorambi, Musyaffa, ritual adat yang dipusatkan di area makam kuno ini rutin dilaksanakan setiap tahun. Tradisi turun-temurun masyarakat Dusun Mojan, Desa Klungkung ini memadukan atraksi tarian sakral dengan untaian doa dari kaki Gunung Argopuro.

Agenda ini digelar sebagai wujud rasa syukur masyarakat kepada Allah SWT atas karunia keselamatan, ketenteraman, serta keberkahan hasil bumi yang melimpah di wilayah setempat.

“Penari Sandor yang berjumlah 21 orang tampil sambil duduk dan berdiri melingkari makam (buju’) leluhur. Pemimpin pujian membacakan doa dalam bahasa Madura tanpa iringan alat musik, lalu dilanjutkan dengan berdiri bergandengan tangan sebagai simbol persatuan dan rasa syukur,” ujar Musyaffa, Selasa (16/6/2026).

Ia menambahkan, ritual ini juga ditujukan untuk mendoakan para leluhur yang pertama kali membuka lahan (babat alas/bedahan) di wilayah tersebut. Berkat konsistensi warga dalam merawat tradisi ini, Desa Klungkung berhasil meraih apresiasi di tingkat nasional.

“Kegiatan ritual ini merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap warisan leluhur, hingga akhirnya Desa Klungkung mendapatkan penghargaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI dan dinobatkan sebagai Desa Budaya,” pungkasnya.

Tingginya nilai sakralitas acara ini membuat keluarga dan keturunan para leluhur yang tinggal di luar kota selalu menyempatkan diri untuk pulang kampung demi mengikuti jalannya ritual.

Sejumlah pihak turut hadir menyaksikan jalannya prosesi di makam leluhur Dusun Mojan tersebut, di antaranya:

  • Jajaran Muspika Kecamatan Sukorambi (termasuk Danramil, Kapolsek, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas).

  • Perwakilan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jember.

  • Kepala Sekolah dari tiga SD Negeri di wilayah Desa Klungkung.

  • Akademisi dari Universitas Jember (Unej) dan UIN KHAS Jember.

  • Tokoh masyarakat, pegiat budaya, serta warga setempat.

Musyaffa menjelaskan bahwa gerakan tubuh dan kaki dalam tarian ini sebenarnya sangat sederhana. Namun, tarian tersebut memiliki ritme khas yang mengikuti lantunan pujian dan doa dari para penari. Salah satu gerakan ikoniknya adalah saat para penari beberapa kali merapatkan tubuh ke dalam lingkaran, lalu bergerak mundur meluas ke luar.

Hal senada diungkapkan oleh Kepala Desa Klungkung, H. Abdul Gofur. Ia menjelaskan asal-usul penamaan tradisi unik ini kepada media.

“Dalam lirik mantra dan doa yang diucapkan, terdapat kata ‘Sandorelang’ yang secara harafiah berarti ‘Sandor yang hilang’. Istilah inilah yang kemudian melekat dan dijadikan nama ritual adat di Desa Klungkung ini,” kata Gofur.

Lebih lanjut, Abdul Gofur memaparkan bahwa ritual Sandorelang di Desa Klungkung ini mencakup penghormatan di 6 makam keramat (buju’), yang meliputi:

  1. Buju’ Taka

  2. Buju’ Rama

  3. Buju’ Biyung

  4. Buju’ Kethek

  5. Buju’ Zaman

  6. Buju’ Trocok

Keunikan ritual adat di makam leluhur ini kini diproyeksikan menjadi daya tarik utama untuk sektor pariwisata berbasis religi.

“Ritual tradisi budaya di makam leluhur Dusun Mojan ini bukan sekadar adat, melainkan aset gelaran budaya yang potensial dijadikan destinasi wisata religi. Terbukti, setiap tahunnya lokasi ini selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara,” tutur Gofur.

Secara filosofis, tarian Sandorelang membawa pesan mendalam mengenai jati diri dan keyakinan masyarakat. Gerakan dan doa di dalamnya menjadi cerminan kuat atas hubungan spiritual manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa sekaligus keharmonisan dengan alam semesta.

Pewarta: Suyanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *