Pemkal Condongcatur Studi Banding ke TPST
Pemkal Condongcatur Studi Banding ke TPST Bening Wedomartani untuk Pelajari Pengelolaan Sampah
Sleman – sadap99.com
Pemerintah Kalurahan (Pemkal) Condongcatur bersama Pengurus BUMKal Nyawiji Condongcatur melakukan kunjungan studi banding ke TPST Bening Wedomartani di Ngemplak, Sleman, pada Rabu (10/9/2025). Kunjungan ini bertujuan untuk belajar langsung serta melakukan transfer pengetahuan dan pengalaman dari kelompok pengelola sampah yang telah sukses terlebih dahulu.
Rombongan dipimpin oleh Lurah Condongcatur, Dr. Reno Candra Sangaji, S.IP, MIP, didampingi oleh Carik, Ulu-ulu, Dukuh Pringwulung, calon pengurus TPST Condongcatur dari warga Pringwulung, Direktur BUMKal, pengurus BUMKal, serta Pendamping Desa. Mereka diterima oleh Ulu-Ulu Kalurahan Wedomartani dan pengelola TPST Bening. Pertemuan dilanjutkan dengan sesi berbagi pengetahuan dan dialog interaktif mengenai pengelolaan sampah yang dijalankan oleh TPST Bening.
Dalam kesempatan tersebut, Lurah Condongcatur, Dr. Reno Candra Sangaji, menyampaikan tujuan dari silaturahmi dan studi banding ini. “Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi pijakan awal bagi Kalurahan Condongcatur dalam mengembangkan sistem pengelolaan sampah yang lebih baik, dengan mencontoh praktik baik dari TPST Bening Wedomartani. Kami mengajak seluruh delegasi untuk aktif bertanya dan menggali informasi secara langsung,” ujarnya.
Di sisi lain, Ulu-Ulu Wedomartani, Sumono, ST, menjelaskan bahwa awalnya pengelolaan sampah di Padukuhan Krandon berupa TPS3R yang dijalankan secara manual. “Pada awal 2025, kami mendapat bantuan mesin pengolah sampah dari Balai Pelestarian Kebudayaan (PKP) DIY, berupa alat pemisah, pencacah, dan press, sehingga berkembang menjadi TPST Bening Wedomartani,” jelasnya.
TPST Bening Wedomartani resmi beroperasi sejak April 2025 atau berusia sekitar 5 bulan. Saat ini memiliki 11 pekerja dan 2 pengelola. “Untuk tiga bulan pertama, upah pekerja masih disubsidi oleh Pemkal Wedomartani. Baru dalam dua bulan terakhir ini TPST mulai mencapai BEP (Break Event Point) dan mandiri. Biaya operasional listrik masih disubsidi oleh Pemerintah Daerah selama 6 bulan,” tambah Sumono.
Lebih lanjut, Ulu-Ulu Wedomartani menyampaikan rencana ke depan, yaitu mengubah pola dari hulu dengan membuat Peraturan Kalurahan (Perkal) tentang pemilahan sampah di tingkat RT. “Saat ini ada 2 RT yang menjadi percontohan. Kami juga akan mengarahkan peternak untuk memanfaatkan sampah organik,” imbuhnya.
Pengelola TPST Bening Wedomartani, Siti Aisyah (yang juga merupakan Dukuh Krandon), menambahkan bahwa jumlah pelanggan saat ini mencapai 372. “Tarif untuk masyarakat umum Rp75.000 per bulan, sedangkan untuk pelaku usaha minimal Rp100.000 per bulan,” jelasnya.
Siti Aisyah juga memaparkan lebih detail: biaya penggajian sekitar Rp22.500.000 per bulan (dibiayai dari iuran pelanggan), pengambilan sampah dilakukan dua kali seminggu, dan dalam sehari TPST mengelola 3 hingga 5 ton sampah. “Kendala utama adalah pada sampah organik yang masih tercampur plastik, yang masih kami evaluasi untuk mencari solusi. Sementara untuk sampah RDF (Refuse Derived Fuel), bahan bakar alternatif dari olahan sampah, masih belum laku dijual secara luas dan biaya operasionalnya masih minus,” ujarnya.
Ia pun memberikan rekomendasi untuk pengelolaan sampah di Condongcatur. “Saran kami, sediakan lahan yang lebih luas, terutama untuk penyimpanan RDF, mengingat masalah yang bisa timbul pada musim hujan,” pesannya.
Dari diskusi yang terjalin, peserta studi banding memperoleh banyak inspirasi mengenai strategi pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat. TPST Bening dinilai sukses menghadirkan sistem yang efektif, melibatkan partisipasi warga, serta memberikan dampak positif bagi lingkungan dan pemberdayaan ekonomi.
Kegiatan ini menjadi langkah konkret dalam mewujudkan gerakan pengelolaan sampah yang dilaksanakan dari, oleh, dan untuk masyarakat, sejalan dengan visi pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Sleman.
(Ome)
