JATIM

Nasib Petani Kian Terpuruk di Musim Panen Raya

Jember, sadap99.com

Petani di sejumlah wilayah kembali harus menelan pil pahit saat musim panen raya tiba. Meski hasil panen melimpah, kesejahteraan tak kunjung berpihak.

Petani kecil kerap kalah dalam persaingan harga akibat keterbatasan modal, sementara pasar sudah lama didominasi pengusaha atau tengkulak bermodal kuat.

Berdasarkan pantauan di lapangan pada 20 Januari 2026, Hj. Mariyatun, seorang petani, mengungkapkan paradoks yang terjadi. “Saat hasil panen melimpah, harga gabah justru anjlok. Ini dimanfaatkan tengkulak bermodal besar. Mereka membeli gabah dari petani dengan harga sangat rendah, secara tunai,” ujarnya.

Para tengkulak sering kali menggunakan sistem tebasan, yaitu membeli seluruh hasil panen di lahan sebelum dipetik.

“Kami terpaksa menjual cepat ke tengkulak karena butuh modal untuk musim tanam berikutnya dan untuk melunasi utang pupuk,” tambah Mariyatun dengan pasrah.

Di tempat terpisah, H. Imam menyoroti akar permasalahan lainnya. Menurutnya, petani kecil sangat kesulitan mengakses pasar langsung atau mendirikan penggilingan padi mandiri. Sebaliknya, pelaku usaha bermodal besar mampu menampung gabah dalam jumlah banyak, melakukan pengeringan secara efektif, dan menahan stok untuk dijual saat harga tinggi.

“Akses seperti itu tidak dimiliki petani kecil. Kami justru sering terjebak dalam lingkaran utang (sistem ijon atau bayar saat panen) kepada tengkulak dan kios pertanian. Alhasil, daya tawar kami sangat lemah,” kata Imam.

Keluhan ini mencerminkan betapa rendahnya posisi tawar petani akibat terbatasnya akses permodalan dan informasi pasar. Mereka pun berharap pemerintah hadir untuk memutus rantai pemasaran yang panjang, menstabilkan harga, dan menghentikan praktik permainan harga oleh pemilik modal besar.

Pewarta: Fred

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *