Memaknai Tahun Baru dengan Menata Hati dan Mendekatkan Diri kepada Allah
JEMBER – sadap99.com
Pergantian tahun sering kali dirayakan dengan pesta dan euforia. Namun, bagi sebagian orang, momen ini justru menjadi ajang refleksi dan perbaikan diri.
KH. Fathorrozi Ghosali, pengasuh Pondok Pesantren Mabnaul Ulum di Desa Pringgodani, Kecamatan Sumber Jambe, Kabupaten Jember, menyoroti kecenderungan perayaan Natal dan Tahun Baru yang kerap terjebak pada hal-hal yang bersifat materialistis dan seremonial belaka.
“Frasa ‘Natal dan Tahun Baru hanyalah berubah angka, buat apa berpesta pora?’ mencerminkan pandangan kritis terhadap perayaan yang berlebihan,” ujarnya.
Menurutnya, frasa tersebut kerap digunakan untuk mengkritik aspek komersial dan konsumerisme yang menyertai perayaan akhir tahun, di mana banyak uang dihabiskan untuk hal-hal seperti kembang api, terompet, dan pesta yang dianggap tidak substansial.
Lebih dari sekadar kritik, Fathorrozi menjelaskan bahwa frasa ini juga dimaksudkan sebagai ajakan untuk berefleksi. Pergantian tahun seharusnya menjadi momen introspeksi dan perbaikan diri, bukan sekadar mencari kesenangan sesaat.
“Perubahan sejati yang diharapkan adalah pembenahan dalam kualitas diri dan kehidupan ke depannya. Bukan hanya angka tahun yang berganti, tetapi kita sebagai umat Allah yang masih diberi kehidupan harus lebih mendekatkan diri kepada-Nya,” pesannya.
Ia menekankan pentingnya merayakan momen pergantian tahun dengan kesederhanaan, tanpa larut dalam euforia yang bersifat sementara. Terutama, kata dia, kita perlu lebih memikirkan masalah sosial atau ekonomi yang lebih mendesak di sekitar kita.
“Secara keseluruhan, frasa ini merupakan ajakan untuk memaknai pergantian tahun dari sudut pandang yang lebih mendalam dan substantif, di balik hingar-bingar perayaan yang bersifat materialistis,” pungkas Fathorrozi.
Pewarta: FRD
