Melestarikan Seni Warangka Keris di Era Digital
MADIUN– sadap99.com
Di era modern yang serba digital, minat terhadap benda pusaka seperti keris dan artefak sejarah lainnya memang mengalami penurunan. Namun, warisan budaya ini tetap harus dilestarikan. Soryo Wijoyo, seorang pengrajin warangka keris asal Desa Bibrik, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun, adalah salah satu yang berusaha menjaga warisan ini. Soryo juga membuka galeri keris di Taman Bantaran, Kota Madiun.
Dengan keahlian, ketekunan, dan ketertarikan mendalam pada benda pusaka, Soryo menekuni profesinya. Langkah ini ternyata membawa berkah tersendiri baginya.
Soryo memulai profesinya sekitar tahun 2012. Awalnya, ia berjualan beli pusaka dan mulai memperbaiki warangka sejak 2016. Banyak kolektor yang kemudian memintanya untuk memperbaiki atau merestorasi keris mereka.
Menyadari bahwa barang-barang lama mulai langka, Soryo berinisiatif untuk memproduksi warangka keris dengan mengikuti pelatihan dan belajar dari pengrajin senior.
Soryo menjelaskan bahwa pengrajin warangka di Madiun tidak banyak. Menurutnya, membuat warangka keris memerlukan keahlian khusus dan ketekunan.
Satu warangka keris biasanya dapat diselesaikan dalam waktu satu hingga dua hari, tergantung pada tingkat kesulitannya.
Ia memproduksi berbagai jenis warangka dengan ciri khas, seperti gaya Solo dan Mataraman. Beberapa jenis kayu yang digunakan antara lain jati gembol, timo, pinisium, cendono jowo, lutung, dan aren lanang.
Salah satu kayu yang istimewa adalah cendono timtim, yang memiliki nilai jual tinggi hingga mencapai jutaan rupiah.
Harga satu warangka keris berkisar antara Rp150.000 hingga jutaan rupiah, tergantung jenis kayunya. Rata-rata dalam satu bulan, ia menerima pesanan lebih dari 60 warangka.
Untuk pemasaran, selain mengikuti pameran, Soryo membuka galeri keris di Taman Bantaran Kota Madiun serta menjualnya melalui media sosial dan pasar online. (Edy)
