Launching Kampung Agrowisata dan Perpustakaan Digital Binaan Polri
Kulonprogo – Sadap99.com
Polda Daerah Istimewa Yogyakarta(DIY) berkolaborasi dengan Forum Keistimewaan dan Kebudayaan Indonesia DIY menyelenggarakan kegiatan dengan dua agenda utama. Agenda pertama adalah Launching Kampung Agrowisata dan Perpustakaan Digital Binaan Polri yang bertempat di Desa Wijimulyo, Kapanewon Nanggulan, Kulonprogo. Agenda kedua adalah Pelatihan Agrowisata dalam mendukung ketahanan pangan dan peningkatan ekonomi masyarakat di wilayah Kulonprogo. Kegiatan ini berlangsung pada Kamis, 28 Agustus 2025.
Dalam sambutannya, Prof. DR. Ir. Djagal Wiseso Marseno, M.Agr., Guru Besar Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian UGM, menyatakan bahwa ketahanan nasional diawali dari ketahanan desa. “Ketahanan itu harus dibangun secara gotong royong, di mana semua stakeholder harus bersatu, mulai dari TNI-POLRI, Kalurahan, Kapanewon, hingga tokoh-tokoh masyarakat, termasuk akademisi dari sekolah dan kampus,” ujarnya.
Prof. Djagal lebih lanjut menuturkan, negara-negara maju berbasis pada pengetahuan. “Seperti ajaran agama, ‘Orang yang berilmu dan beriman akan ditinggikan derajatnya’. Orang yang beriman tanpa ilmu sama dengan buta, sedangkan orang yang berilmu dan beragama bagaikan memiliki mata untuk melihat dan kaki untuk berjalan,” tuturnya.
Sementara itu, AKBP Wiwik Hari Tulasmi, S.H., M.H., dalam sambutannya menyampaikan dukungan penuh terhadap program ini. “Kami sangat mendukung launching Kampung Agrowisata dan Perpustakaan Digital ini. Program ini penting untuk ketahanan pangan, di mana masyarakat bisa mendapatkan ilmu dan hasil. Perpustakaan Digital akan sangat membantu masyarakat dalam belajar dan mendapatkan manfaat. Semoga kegiatan ini dapat berjalan dan berkelanjutan sehingga para petani bisa sejahtera,” katanya.
Kegiatan sesi pertama diakhiri dengan penanaman bibit pohon kelengkeng, alpukat, dan durian di pekarangan rumah Bapak Purdiyanto.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Sesi II, yaitu Pelatihan Agrowisata untuk mendukung ketahanan pangan dan peningkatan ekonomi masyarakat di wilayah Kulonprogo. Pelatihan berlangsung di Tinitah Alam Resto, Jetis, Pandoworejo, Nanggulan, Kulonprogo, dan dihadiri oleh kelompok petani agrowisata Desa Wijimulyo.
Pemateri, Bapak Purdiyanto, S.Kom., penggerak petani agrowisata di Kulonprogo, menyampaikan topik “Membangun Ketahanan Pangan dari Keluarga”. Ia mengungkapkan, “Ketahanan pangan merupakan kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga, yang tercermin dari ketersediaan pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutu, aman, merata, dan terjangkau.”
Program ketahanan pangan ini merupakan bagian dari dukungan terhadap program pemerintah “Asta Gita”, khususnya untuk tanaman pangan. “Kami mengelola program ini bersama kelompok petani, khususnya untuk buah kelengkeng dan alpukat, dengan memanfaatkan lahan tidak produktif milik masyarakat,” jelas Purdiyanto.
Kelompok Tani masyarakat di Desa Wijimulyo memanfaatkan lahan tidak produktif yang kemudian diolah menjadi kebun buah. Program ini telah berjalan sejak tahun 2017, dan saat ini total tanamannya mencapai 18.000 pohon yang dikelola oleh masyarakat.
Para petani kini telah merasakan manfaat dari pertanian agrowisata ini. “Program ini seperti ‘tabungan pensiun’ bagi masyarakat karena hasilnya pasti dan berkelanjutan. Harga jualnya kompetitif, sehingga menguntungkan bagi pemilik lahan, sementara pembeli mendapatkan buah segar yang bisa dipetik langsung dari kebun,” tambahnya.
Sebagai contoh, satu pohon alpukat dapat menghasilkan panen hingga 1 kuintal dengan harga mencapai Rp 2,5 juta. Jadi, jika seorang petani memiliki 10 pohon alpukat, penghasilannya bisa mencapai Rp 25 juta untuk sekali panen. Perawatan tanaman alpukat juga relatif mudah dengan harga yang stabil.
“Tujuan pelatihan hari ini adalah untuk meningkatkan kapasitas dan mengedukasi petani dalam memanfaatkan lahan tidak produktif menjadi lahan yang produktif dan berdaya guna. Untuk penyediaan bibit, kami bekerja sama dengan beberapa BUMN yang menyuplai bibit tanaman berkualitas baik, seperti bibit alpukat, kelengkeng, dan durian,” pungkas Purdiyanto.
(Ome)
