Jogja Cultural Wellness Festival 2025: Gerakan Kembali pada Keseimbangan Hidup
YOGYAKARTA – sadap99.com
Yogyakarta semakin mengukuhkan posisinya sebagai pusat cultural wellness Indonesia dengan menyelenggarakan Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2025. Lebih dari sekadar festival, JCWF adalah sebuah gerakan yang mengajak masyarakat modern menemukan kembali keseimbangan hidup melalui kearifan budaya Jawa, memadukan tradisi, kesehatan holistik, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat.
JCWF 2025 diselenggarakan di Mustika Yogyakarta Resort & Spa, sebuah destinasi yang memadukan ketenangan, kemewahan, dan estetika Jawa. Lingkungan resort yang asri dengan arsitektur Jawa modern tidak hanya menjadi tempat acara, tetapi juga ruang pemulihan yang mendukung esensi wellness.
Press conference yang menandai dimulainya festival ini digelar di Mustika Yogyakarta Resort & Spa pada Sabtu (1/11/2025). Acara ini dihadiri oleh tokoh-tokoh kunci, antara lain GKR Bendara, Maharani (Putri Indonesia DIY 2025), Drs. H. Hafid Asrom, MM., serta Sekretaris Umum DPD PUTRI DIY, Agus Budi Rachmanto.
Kehadiran GKR Bendara memberikan makna filosofis yang mendalam. Beliau dikenal sebagai figur yang tak hanya menjaga kelestarian budaya Jawa, tetapi juga aktif mendorong transformasi pariwisata Yogyakarta agar tetap berakar pada identitas budaya sekaligus adaptif terhadap perkembangan global. Pandangan Beliau mengenai harmoni antara tradisi dan kehidupan modern selaras sempurna dengan konsep wellness JCWF.
Memperkuat pesan tersebut, hadir pula Putri Indonesia DIY 2025, Maharani, yang merepresentasikan generasi muda yang cerdas, inspiratif, dan peduli terhadap budaya dan wellbeing. Kehadirannya membawa semangat progresif perempuan muda Yogyakarta yang mampu memadukan kecerdasan, karakter, dan kesadaran budaya. Kolaborasi simbolis antara GKR Bendara dan Maharani mencerminkan harmoni lintas generasi—sebuah perpaduan kearifan lokal dengan pemikiran modern.
Di tengah tuntutan hidup modern dan meningkatnya isu kesehatan mental, JCWF 2025 mengajak masyarakat untuk mengambil jeda dan kembali pada nilai-nilai Jawa: “Salarasing Urip, Wiraga, Wirasa, Wirama”. Filsafat ini meyakini bahwa kesejatian hidup tercapai ketika raga, rasa, dan ritme menyatu dalam harmoni, menegaskan bahwa wellbeing sejati adalah proses menyeluruh yang menyentuh batin, budaya, dan kesadaran diri.
Sebagai wujud nyata, JCWF 2025 menawarkan rangkaian pengalaman immersive selama satu bulan penuh. Mulai dari meditasi tradisional, sesi penyembuhan berbasis budaya, terapi seni, ritual wellness Jawa, hingga program edukatif untuk keluarga dan generasi muda. Peserta tidak hanya diajak menikmati, tetapi juga mengalami langsung perpaduan budaya dan wellness secara mendalam.
Kehadiran figur perempuan inspiratif dalam festival ini juga menyampaikan pesan kuat tentang peran strategis perempuan dalam menciptakan ekosistem wellness Indonesia—sebagai penjaga nilai, inspirator keluarga, agen perubahan, hingga pemimpin gerakan sosial. GKR Bendara dan Maharani menjadi lambang sinergi antara keluhuran budaya dan visi masa depan.
Melalui kolaborasi lintas sektor—budaya, pariwisata, kesehatan, pendidikan, dan ekonomi kreatif—Jogja Cultural Wellness Festival 2025 diharapkan menjadi momentum transformasi nasional. Festival ini menegaskan bahwa Yogyakarta bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga ruang untuk pulih dan menyembuhkan jiwa; sebuah tempat untuk menemukan kembali ketenangan yang berakar pada budaya.
Pada hakikatnya, JCWF 2025 bukan sekadar festival. Ini adalah undangan untuk kembali pada diri, kembali pada tradisi, dan kembali pada keseimbangan hidup—dari Yogyakarta, untuk Indonesia dan dunia.
(Ome)
