NASIONALOPINI

Ironi HUT RI ke-80: Rakyat Tercekik Kebutuhan, Dewan Asyik Joget

 

LUMAJANG, SADAP99.COM

Peringatan HUT RI ke-80 di Kabupaten Lumajang (18/8/2025) justru mengukir ironi pahit. Di tengah meroketnya harga sembako dan maraknya pencurian motor yang mencekik warga, anggota DPRD setempat malah tersorak kamera saat berjoget riang di panggung perayaan.

Aksi para wakil rakyat itu memantik gelombang kritik. Alih-alih menunjukkan solidaritas, mereka justru dianggap memamerkan euforia kosong di atas penderitaan konstituen.

“Ini kemerdekaan versi siapa? Rakyat gigit jari, sementara mereka asyik bergoyang,” sindir Dierel, Aktivis Aliansi Madura Indonesia (AMI) Lumajang.

Jurang Elit dan Rakyat: Joget vs Jerit

Data di lapangan mengkonfirmasi kesenjangan itu:

· Kriminalitas: Lonjakan 40% kasus pencurian motor (Polres Lumajang, Agustus 2025) membuat warga waswas. Motor adalah tulang punggung mobilitas warga.
· Ekonomi: Harga beras tembus Rp 15.000/kg, minyak goreng Rp 25.000/liter—naik 30% dalam sebulan.

“Mereka berkeringat di panggung, kami berkeringat mencari nafkah. Jogetnya lincah, tapi solusi untuk rakyat mandek,” tambah Dierel.

Momentum yang Disia-siakan

Tokoh masyarakat menyesalkan hilangnya esensi peringatan kemerdekaan:

· Sukardi (Warga Kutorenon): “HUT RI harusnya jadi refleksi, bukan pesta elit. Daripada joget, lebih baik turun ke pasar atau poskamling dengar keluhan warga.”
· Dierel: “Kemerdekaan diraih dengan darah dan air mata, bukan dengan dangdutan.”

Tuntutan Nyata

Publik mendesak DPRD segera:

1. Gelar rapat darurat bahas solusi kenaikan harga sembako.
2. Perketat pengawasan keamanan bersama kepolisian.
3. Alokasikan anggaran untuk bantuan sosial, bukan hiburan seremonial.

“Kami butuh tindakan, bukan tontonan. Kalau mau joget, jogetlah sambil kunjungi kampung-kampung miskin,” seru Maya, pedagang Pasar Baru Lumajang.

Catatan Akhir: Kemerdekaan yang Terkoyak

Perayaan ini menjadi cermin retaknya hubungan rakyat dan elit. Ketika mandat publik dikhianati untuk hiburan semata, yang tersisa hanyalah kemerdekaan semu—di mana rakyat merdeka dari kepedulian pejabatnya sendiri.

(Reporter: [BKT]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *