Festival Nitilaku Jamu 2026: Dorong Jamu Jadi Gaya Hidup Sehat Lintas Generasi
YOGYAKARTA – sadap99.com
Jamu terus didorong naik kelas, bukan sekadar warisan budaya, tetapi bagian dari sistem kesehatan dan gaya hidup modern. Semangat itu mengemuka jelang Festival Nitilaku Jamu 2026 yang akan digelar di Bale Gadeng, Jalan Kartini No. 1, Sagan, Yogyakarta, pada Rabu (11/2/2026), pukul 08.00–14.30 WIB.
Anggota Dewan Jamu DIY, Bondan Agussuryanto, menyatakan bahwa pengembangan jamu telah berlangsung lama, baik melalui jalur akademik maupun kebijakan pemerintah. Dalam pendidikan farmasi, kajian tanaman obat dan herbal telah menjadi bagian dari kurikulum resmi.
“Secara akademik, herbal sudah dipelajari. Pemerintah juga mendorong agar pelayanan kesehatan tradisional, termasuk jamu, dapat dihadirkan di puskesmas maupun rumah sakit,” tutur Bondan.
Dalam regulasi kesehatan nasional, produk herbal diklasifikasikan ke dalam tiga kategori, yakni jamu berbasis pengalaman empiris, Obat Herbal Terstandar (OHT) yang telah melalui uji praklinis, serta fitofarmaka yang telah menjalani uji klinis pada manusia.
Bondan mengingatkan pelaku usaha agar tidak melakukan klaim berlebihan terhadap produk yang belum teruji secara ilmiah. “Yang utama harus dipastikan tidak toksik dan didukung penelitian. Edukasi ini penting agar masyarakat tidak salah persepsi,” katanya.
Potensi Ekonomi yang Besar
Di sisi lain, industri jamu dinilai memiliki potensi ekonomi yang luar biasa. Ribuan pelaku usaha, dari skala mikro, kecil, dan menengah (UMKM) hingga korporasi besar, berkontribusi terhadap perputaran ekonomi sektor herbal yang nilainya mencapai triliunan rupiah setiap tahun.
Menurut Bondan, penguatan literasi dan standardisasi akan berdampak langsung pada peningkatan kepercayaan publik. “Jika masyarakat yakin secara ilmiah, UMKM jamu akan semakin berkembang. Jamu pada dasarnya lebih bersifat preventif, meski beberapa memiliki fungsi kuratif,” ujarnya.
Sementara itu, Tazbir Abdullah menambahkan bahwa strategi promosi perlu lebih adaptif agar jamu semakin diterima lintas generasi. Mantan Kepala Dinas Pariwisata DIY ini mendorong jamu dikemas secara menarik dan diposisikan sebagai produk unggulan daerah.
“Jamu bisa menjadi oleh-oleh resmi bagi tamu daerah. Ini bagian dari diplomasi budaya sekaligus promosi ekonomi lokal,” tuturnya.
Ia juga menyoroti tingginya konsumsi minuman manis di kalangan anak muda yang berisiko bagi kesehatan jangka panjang. Edukasi sejak dini dinilai penting agar generasi muda kembali mengenal dan membiasakan diri mengonsumsi jamu.
Rebranding oleh Generasi Muda
Upaya pembaruan citra jamu juga dilakukan pelaku usaha muda. Oca, pendiri merek “Selera Jamu”, menghadirkan konsep jamu sebagai minuman harian, bukan sekadar konsumsi saat sakit.
“Branding kami bukan lagi jamu untuk orang sakit, tetapi jamu untuk keseharian. Bahannya tetap beras kencur, kunyit asam, dan herbal lainnya, tetapi kemasan dan pengalaman konsumennya disesuaikan dengan selera anak muda,” ujar Oca.
Ia memanfaatkan media sosial sebagai medium bercerita, bukan sekadar etalase penjualan. Pendekatan itu dinilai efektif menjangkau konsumen muda yang mengutamakan pengalaman visual dan narasi personal.
Sejumlah produknya bahkan diminati pelajar. Oca kerap mengadakan edukasi sederhana tentang pembuatan jamu di sekolah sebagai alternatif minuman yang lebih sehat dibandingkan minuman bersoda.

Rangkaian Festival
Ketua Jamu Jogja Husada Sehat, Nina Rahayu Purnomo, mengatakan pihaknya menyiapkan kampanye minum jamu sebagai program jangka pendek. Setiap pengunjung festival akan disambut dengan jamu gratis sebagai bentuk edukasi sekaligus pengenalan budaya.
“Program jangka pendek kami adalah kampanye jamu. Masyarakat yang datang bisa langsung menikmati jamu gratis. Ini sekaligus mengedukasi bahwa jamu adalah warisan sehat yang harus kita lestarikan,” ujar Nina.
Rangkaian kegiatan juga akan menghadirkan Prof. Nyoman yang memimpin prosesi simbolik bertajuk “Jamu Jogja untuk Dunia”, dilanjutkan dengan minum jamu bersama sebagai bentuk komitmen kolektif mengangkat jamu ke tingkat yang lebih luas.
Festival ini turut diramaikan lapak jamu dan stan makanan pendamping. Sekitar 20 pelaku usaha jamu terlibat, dengan konsep berbagi meja untuk memperkuat kebersamaan.
“Kalau pelaku usaha jamu yang terlibat kurang lebih ada 20. Ada juga yang berbagi tempat dalam satu meja. Ini bentuk kebersamaan kami,” kata Nina.
Selain diskusi bersama pakar herbal dan Dewan Jamu DIY, festival juga menghadirkan kampanye minum jamu sehat, lapak UMKM, kegiatan “ngunjuk jamu” bersama, serta pertunjukan seni yang melibatkan Srikandhi Pendopo Ndâlem, Jogja Hisada Sehat Empu Agung, dan Majelis Puisi Perempuan GAP.
Nina berharap jamu tidak hanya dikenal sebagai produk tradisional lokal, tetapi mampu menembus pasar global. Menurut dia, kolaborasi antara akademisi, pemerintah, pelaku usaha, dan komunitas menjadi kunci agar jamu tetap lestari sekaligus kompetitif.
“Tidak hanya batik. Jamu juga bisa berjalan bersama sebagai identitas budaya Indonesia,” ujar Nina.
(Ome)
