Alasan Plaza Bangil Sepi Pengunjung, Ini Beberapa Penyebabnya
PASURUAN, sadap99.com
Kondisi perekonomian di Kabupaten Pasuruan terkesan stagnan, bahkan cenderung merosot. Hal ini terlihat dari beberapa faktor yang seharusnya dapat diantisipasi oleh Pemerintah Daerah setempat.
Salah satu indikator yang kasatmata dan dapat dilihat langsung oleh masyarakat adalah melemahnya daya beli. Fenomena ini tampak dari sepi pengunjungnya pusat perbelanjaan di pusat kota, seperti Plaza Bangil yang terletak di ibu kota Kabupaten Pasuruan yang baru.
Persepsi ini diungkapkan oleh salah satu aktivis wanita asal Rembang, Dahniar, kepada awak media sadap99, Kamis (11/9/25).
“Kondisi ekonomi Kabupaten Pasuruan stagnan dan cenderung melemah. Hal ini bisa dilihat dari menurunnya daya beli masyarakat sekitar. Sebagai contoh, silakan lihat sendiri kondisi Plaza Bangil. Tata kelolanya saja tidak jelas. Banyak bangunan yang kosong karena para pedagang enggan membuka lapak akibat sepinya pengunjung,” ujarnya.
Dahniar mengakui ada peran faktor eksternal, seperti maraknya belanja online yang tidak terbendung. Namun, menurutnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) harusnya dapat mengakalinya dengan serius agar minat pembeli bisa kembali.
“Banyak permasalahan yang harus segera diselesaikan. Beberapa di antaranya adalah perubahan desain ruko sesuai keinginan penyewa, seperti pembongkaran beberapa ruko menjadi satu. Yang paling disorot adalah masalah parkir,” lanjutnya.
“Parkir di Plaza Bangil perlu ditata secara serius. Kita belanja ke 5 toko berbeda, maka harus bayar parkir 5 kali. Padahal, barang belanjaan belum tentu didapat, tapi parkir sudah bayar 5 kali. Itu pun tidak ada karcisnya. Heran, bagaimana menghitung pemasukan parkirnya jika tidak ada karcis resmi? Pemkab menghitungnya bagaimana?” tambah Dahniar.
Belum lagi masalah lain seperti tidak jelasnya regulasi bagi penyewa yang menyewakan kembali lapaknya. Pemkab harus memikirkan ini untuk kepentingan masyarakat.
“Jadi, kalau ditanya kenapa Plaza Bangil sepi pengunjung? Jawabannya ada beberapa indikator: toko online, regulasi penyewaan lapak, dan yang terutama adalah masalah parkir. Masalah ini terlihat sepele, tapi itulah yang langsung dirasakan oleh pengunjung,” pungkas Dahniar.
Pewarta: sP
