DKPP Ngawi Dukung Program Beras Berkelanjutan dan PRLB
Ngawi – sadap99.com
Dalam upaya memperkuat ekosistem pertanian yang tangguh dan berkelanjutan, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Ngawi hadir dalam acara bersama konsorsium lembaga KRKP (Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan), Rikolto, CISU (Civil Society in Development), dan PBN (Preferred by Nature). Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (31/03/2026) di Rumah Makan Kedai Duta-Qu, Karangtengah, Ngawi, bertajuk Pertemuan Petani Tingkat Kabupaten. Acara ini merupakan tindak lanjut dari Program Sustainable Rice Platform (SRP) yang telah dilaksanakan di Kabupaten Ngawi.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Ngawi, Supardi, menyampaikan bahwa Program Rice Resilience (Beras Tangguh) dan Sustainable Rice Platform (SRP) sangat sejalan dan selaras dengan Program Pemerintah Kabupaten Ngawi, yakni Program Pertanian Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PRLB) serta komitmen Bupati Ngawi dalam International Sustainable Rice Forum.
Tantangan pertanian ke depan di Kabupaten Ngawi cukup berat. Terjadi penurunan luas baku sawah dari 50.715 hektare menjadi 49.622 hektare, namun di sisi lain produksi padi dan tingkat kesuburan lahan tetap harus ditingkatkan agar stabilitas swasembada pangan, khususnya padi, dapat terjaga.
Hadir dalam pertemuan tersebut para pemangku kepentingan, antara lain dari unsur pemerintahan, organisasi non-pemerintah, petani, Poktan, Gapoktan, KWT, HKTI, serta pelaku usaha penggilingan padi.

Rice Resilience Project merupakan kegiatan dalam rangka peningkatan kapasitas budidaya beras berkelanjutan dengan menerapkan prinsip Sustainable Rice Platform untuk membangun ekosistem beras tangguh, mulai dari manajemen usaha tani, persiapan awal, penggunaan air, manajemen hara, pengelolaan hama terpadu (PHT), panen dan pascapanen, kesehatan dan keselamatan petani, serta hak pekerja pertanian atau buruh tani.
Hasil dari pelaksanaan demplot dan sekolah lapang SRP di Desa Dempel, Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi pada Musim Tanam 1 2025–2026 menunjukkan peningkatan pendapatan petani sebesar 10–20%, pengurangan penggunaan air hingga 20%, serta hampir 50% penurunan emisi metana dari sawah tergenang. Kegiatan ini juga telah membentuk Multi-Stakeholder Forum (MSF) sebagai wadah advokasi petani.
(Ar/adv)
