FoodJATIM

Harga Cabai Rawit Merah di Pasar Rambipuji Jember Meroket Jelang Puasa

 

JEMBER – sadap99.com

Menjelang bulan suci Ramadan 1447 Hijriah/2026, harga cabai rawit merah di Pasar Rambipuji, Kabupaten Jember, terus mengalami kenaikan signifikan. Kenaikan terjadi hampir setiap hari, sementara sejumlah harga kebutuhan pokok lainnya justru mulai menunjukkan penurunan.

Berdasarkan pantauan di lokasi pada Rabu (11/2/2026), harga cabai rawit merah naik dari Rp82.000 per kilogram menjadi Rp84.000 per kilogram, atau naik Rp2.000. Cabai merah besar juga mengalami kenaikan dari Rp26.000 menjadi Rp27.000 per kilogram. Sementara cabai rawit hijau melonjak tajam dari Rp35.000 menjadi Rp40.000 per kilogram, atau naik Rp5.000.

Komoditas lain yang turut merangkak naik antara lain gula pasir curah dari Rp16.000 menjadi Rp18.000 per kilogram, serta tomat dari Rp6.000 menjadi Rp7.000 per kilogram.

**Harga Bawang Justru Turun**

Di tengah tren kenaikan sejumlah bahan pokok, harga bawang merah dan bawang putih justru mengalami penurunan. Bawang merah turun dari Rp40.000 menjadi Rp35.000 per kilogram, sementara bawang putih Honan turun dari Rp32.000 menjadi Rp29.000 per kilogram.

**Cuaca Ekstrem dan Gangguan Distribusi**

Mantri Pasar Rambipuji, Slamet, S.H., saat ditemui di lokasi, Rabu pagi, mengungkapkan bahwa kenaikan harga dipicu oleh cuaca ekstrem dan berkurangnya pasokan barang.

“Cuaca ekstrem dan keterbatasan pengiriman barang menjadi pemicu utama mahalnya cabai dan beberapa kebutuhan lainnya. Sementara kebutuhan masyarakat semakin meningkat,” ungkap Slamet.

Ia menambahkan, hujan yang hampir setiap hari mengguyur wilayah Jember membuat petani enggan memanen. Akibatnya, banyak tanaman cabai yang layu dan mati, sehingga pasokan ke pasar berkurang drastis.

“Setiap hari hujan, petani tidak bisa panen. Tanaman cabai banyak yang rusak. Itu yang menyebabkan pasokan ke Pasar Rambipuji berkurang dan harga terus meroket,” pungkasnya.

Kendati demikian, Slamet memastikan bahwa stok bahan kebutuhan pokok secara keseluruhan masih aman hingga memasuki bulan Ramadan nanti.

**Emak-emak Keluhkan Harga Tak Terjangkau**

Kenaikan harga cabai dan sejumlah komoditas lain mulai menjadi perbincangan hangat di kalangan ibu-ibu, salah satunya Bu Astuti, warga setempat.

“Kami berharap pemerintah segera menstabilkan harga, khususnya cabai yang harganya sangat mahal. Harga harus tetap terjangkau agar tidak semakin meresahkan warga,” keluhnya.

**Harga Komoditas Lain: Ada yang Turun, Ada yang Stabil**

Sejumlah kebutuhan pokok justru menunjukkan tren penurunan. Harga telur ayam ras turun dari Rp29.000 menjadi Rp27.000 per kilogram, daging ayam ras turun dari Rp38.000 menjadi Rp37.000 per kilogram, dan kentang turun drastis dari Rp14.000 menjadi Rp10.000 per kilogram. Wortel juga turun dari Rp13.000 menjadi Rp9.000 per kilogram.

Sementara itu, harga minyak curah tetap stabil di Rp19.000 per liter, dan minyak kemasan premium refil sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) tetap Rp16.000 per liter setelah operasi pasar Bulog.

Harga daging sapi segar terpantau stabil, dengan paha belakang kualitas 1 tetap Rp125.000 per kilogram, paha depan Rp120.000, sandung lamur Rp100.000, dan tetelan Rp110.000 per kilogram.

Harga kol/kubis justru naik tipis dari Rp8.000 menjadi Rp9.000 per kilogram, sementara buncis bertahan di Rp13.000 per kilogram.

Untuk beras, harga beras medium mulai turun dari Rp13.500 menjadi Rp13.000 per kilogram, sedangkan beras kualitas premium masih bertahan di Rp14.500 per kilogram.

***(Sadap99.com)***

**Perbaikan yang dilakukan:**

1. **Judul:** Dipertegas dan difokuskan pada isu utama (cabai rawit merah) serta konteks waktu (jelang puasa).
2. **Struktur berita:** Disusun lebih sistematis dengan subjudul untuk memudahkan pembaca.
3. **Ejaan dan tanda baca:**
– “siknifikan” → “signifikan”
– “Pebruari” → “Februari”
– “extrim” → “ekstrem”
– “di guyur” → “diguyur”
– “di perbincangkan” → “diperbincangkan”
– “di gerontol” → “digelontorkan”
4. **Penyajian data:** Angka dan satuan ditulis seragam (RpX.XXX per kilogram).
5. **Kutipan:** Disajikan dengan format yang rapi dan konsisten.
6. **Redundansi:** Menghilangkan pengulangan informasi yang tidak perlu.
7. **Keseimbangan berita:** Tetap menyajikan informasi tentang komoditas yang turun/stabil agar tidak bias.

pewarta: Suyanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *