JATIMOPINI

Bahasa yang Tidak Santun: Pemicu Konflik dan Retaknya Hubungan Sosial

JEMBER, Sadap99.com

Kemampuan berbahasa yang kurang, khususnya penggunaan kata-kata yang tidak santun, dinilai dapat memicu konflik di tengah masyarakat. Pola interaksi yang kasar dan tidak menghargai lawan bicara berpotensi melukai perasaan dan merusak harmoni sosial.

Suprihandoko, seorang pengamat sosial, menyoroti fenomena ini dalam wawancara dengan awak media pada 22 Januari 2026 di kediamannya.

Ia menegaskan bahwa salah satu akar konflik dalam masyarakat adalah penyampaian kata-kata yang tidak santun, yang berujung pada sakit hati.

“Indikasi itu bisa kita lihat dari pembicaraan yang menggunakan tatanan bahasa kurang santun terhadap lawan bicara. Banyak kata-kata yang mengutip ujaran elit politik saat saling menghujat lawannya. Serangan balik pun sering menggunakan bahasa yang sama tidak santunnya,” ujar Handoko.

Ia menilai kecenderungan masyarakat saat ini semakin menjauh dari penggunaan bahasa yang halus dan penuh kasih. “Dari sinilah awal mula potensi konflik di masyarakat muncul,” tambahnya.

Handoko memberikan contoh nyata pada bahasa yang kerap digunakan para demonstran saat berorasi menyuarakan ketidakpuasan terhadap pemerintah atau DPR. Menurutnya, terdapat kecenderungan untuk menghujat tanpa memilih kata yang baik, yang tidak lepas dari pengaruh dan “kontaminasi” bahasa dari elite politik.

“Di satu sisi, kejujuran dalam menyampaikan aspirasi itu baik. Namun, dari sisi kesantunan berbahasa, cara seperti itu tetap tidak tepat. Untuk membina hubungan masyarakat yang baik dan harmonis, aturan berbahasa harus dikemas dengan kesantunan,” jelas Handoko.

Ia menekankan bahwa bahasa merupakan cermin bangsa dan jiwa seseorang. Oleh karena itu, penuturan harus disampaikan dengan konotasi yang baik, terlepas dari perasaan suka atau tidak suka terhadap lawan bicara.

“Pembinaan hubungan antar sesama manusia, dari sekadar kenalan hingga menjadi seperti saudara, bisa dimulai dari cara penyampaian bahasa yang baik dan benar. Dengan membiasakan bahasa santun, bangsa Indonesia bisa hidup lebih rukun dan harmonis,” harapnya.

Pendapat senada disampaikan oleh Suwarno, mantan kepala sekolah SDN di Kecamatan Sukowono, Kabupaten Jember. Ia menegaskan bahwa pemilihan kata yang tidak sesuai konteks dapat merusak komunikasi yang seharusnya berjalan baik.

“Ada kemungkinan konflik antar etnis bisa terjadi bila penguasaan bahasa tidak baik. Perubahan harus dimulai dari diri sendiri, dengan memperhatikan latar belakang pendidikan, faktor keluarga, dan lingkungan,” ujar Suwarno.

Ia menambahkan, penggunaan bahasa yang baik dapat dilihat dari kesesuaian dengan kaidah bahasa dan konteks pembicaraan. Menjaga kesantunan berbahasa, menurutnya, adalah langkah dasar untuk mencegah konflik dan memperkuat kohesi sosial.

– FRD –

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *