Pemdes Janti Kecamatan Tarik Dinilai Gagal Bangun Gedung Serbaguna
SIDOARJO – sadap99.com
Pemerintah Desa Janti, Kecamatan Tarik, Kabupaten Sidoarjo, di bawah Kepala Desa Endang Soponyono, dinilai gagal membangun gedung serbaguna pada Tahun Anggaran 2024. Pasalnya, hingga saat ini pembangunan gedung tersebut belum dapat dikatakan selesai.
Berdasarkan kondisi fisik, bangunan yang ada lebih sering digunakan sebagai tempat parkir sepeda motor untuk siswa-siswi SMAN 1 Tarik. Keadaannya tidak memenuhi syarat untuk disebut sebagai gedung, melainkan lebih tepat disebut hanggar.
Sebab, definisi gedung mengharuskan bangunan tertutup, sementara struktur yang ada saat ini hanya berupa kerangka baja WF dengan dinding bata ringan setinggi 1,5 meter, itupun tidak terpasang secara menyeluruh.
Kepala Desa Janti, Endang Soponyono, yang dikonfirmasi via pesan WhatsApp pada 1 Desember, hanya menyatakan, “Silakan silaturahmi ke Balai Desa Janti.” Namun, ketika diminta klarifikasi dan konfirmasi lebih lanjut melalui pesan yang sama, ia tidak memberikan tanggapan.
Terpisah, Direktur Konstruksi LSM WAR, Ir. Haryanto B., S.H., M.Si., saat dimintai komentar pada Senin (1/12) menyatakan, “Pada umumnya, gedung harus tertutup dan itu tidak bisa ditawar. Kalau membangun gedung tetapi terbuka, itu bukan gedung, lebih tepat disebut hanggar. Jadi, tepat jika dikatakan Pemdes Janti gagal membangun gedung serbaguna.”

Lebih lanjut, Ir. Haryanto B., S.H., M.Si., juga menyampaikan analisis estimasi biaya pembangunan gedung serbaguna Desa Janti sebagai berikut:
Perhitungan Biaya:
· Luas bangunan: 20 m x 30 m = 600 m²
· Harga satuan: Rp500.000/m²
· Biaya: 600 m² x Rp500.000 = Rp300.000.000
· PPN & PPh 12,5%: Rp300.000.000 x 12,5% = Rp37.500.000
· Total perkiraan biaya: Rp337.500.000
Sementara itu, menurut papan informasi pelaksanaan proyek, detailnya adalah:
· Nama kegiatan: Pembangunan Gedung Serbaguna
· Lokasi: Desa Janti
· Volume: 20 m x 30 m
· Biaya: Rp339.126.170
· Sumber dana: Dana Desa TA 2024
“Jadi, ada selisih sekitar Rp2 juta jika pekerjaan benar-benar rampung. Namun, jika pengerjaan tembok hanya seperlimanya, maka kelebihan anggarannya bisa jauh lebih besar, kurang lebih sekitar Rp57 juta,” pungkas Haryanto.
(Zein)
