DIY

Relevansi Potensi Wellness Tourism dengan Penyelenggaraan Jogja Cultural Wellness Festival 2025

Yogyakarta – Sadap99.com

Potensi Wellness Tourism di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan relevansinya dengan penyelenggaraan Jogja Cultural Wellness Festival 2025 diungkapkan oleh Agus Budi Rachmanto, Sekretaris Umum DPD PUTRI DIY dan Wakil Ketua Bidang Objek Daya Tarik Wisata & Event DPD GIPI DIY, pada Minggu (9/11/2024).

Perkembangan pariwisata global menunjukkan pergeseran signifikan menuju wellness tourism sebagai salah satu sektor dengan pertumbuhan tercepat. Wisata kini tidak lagi dipandang semata sebagai aktivitas rekreasi, tetapi telah menjadi medium untuk pemulihan diri (healing), peningkatan kualitas hidup, pengalaman berkesadaran, hingga transformasi personal. Dalam konteks ini, DIY memiliki modal kultural yang kuat untuk memosisikan diri sebagai cultural wellness destination, dengan keunggulan yang sulit ditiru daerah lain. Hal ini ditunjang oleh beberapa faktor:

1. Karakter Kultural sebagai Fondasi Wellness Tourism
Filosofi hidup Jawa yang mengedepankan harmoni antara raga,rasa, dan jiwa (seperti trikon, sangkan paraning dumadi, dan tata titi tentreming urip) menjadikan nilai wellness di Yogyakarta bersifat holistik dan berbasis jiwa (soul-based). Wellness di DIY bukan sekadar produk gaya hidup, melainkan memiliki akar yang dalam pada kearifan lokal, spiritualitas, dan seni budaya. Hal ini memberikan diferensiasi yang jelas dibandingkan destinasi wellness yang hanya mengandalkan tren modern.

2. Keunggulan Geografis dan Lanskap Alam Pendukung Healing
Yogyakarta memiliki bentang alam yang ideal untuk aktivitas pemulihan dan kontemplasi,mulai dari kaki Gunung Merapi, garis pantai selatan, kawasan perdesaan, sungai, hingga ruang hijau urban. Lanskap ini memperkuat potensi pengembangan nature-based wellness seperti forest healing, mindful trekking, eco-spiritual journey, dan rural wellness retreat.

3. Ekosistem Industri dan Kreativitas yang Mendukung
DIY ditopang oleh ekosistem pariwisata dan ekonomi kreatif yang progresif,meliputi hotel, spa tradisional, praktisi herbal, retreat center, pelaku seni, UMKM lokal, komunitas mindfulness, hingga akademisi. Dalam lingkup ini, sinergi antara asosiasi pariwisata seperti PUTRI DIY dan GIPI DIY menjadi penting untuk mengarahkan inovasi produk, pemasaran, dan penguatan standar layanan wellness tourism di DIY agar dapat bersaing di tingkat nasional dan internasional.

4. Peluang Ekonomi dan Tren Global
Data Global Wellness Institute(GWI) menunjukkan pertumbuhan wellness tourism global mencapai sekitar 20% per tahun. Wisatawan wellness merupakan high-value quality traveler dengan rata-rata belanja 130–150% lebih tinggi dibandingkan wisatawan konvensional. Dengan branding yang tepat, DIY berpotensi meningkatkan:

· Lama tinggal wisatawan (length of stay),
· Belanja berbasis pengalaman (experience spending),
· Penyerapan tenaga kerja kreatif dan terapis,
· Pemberdayaan UMKM di bidang jamu, herbal, kriya, dan kuliner sehat.

5. Relevansi Strategis Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2025
Dalam konteks penguatan posisi DIY sebagai destinasiwellness berbasis budaya, penyelenggaraan Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2025 menjadi momentum yang penting dan strategis. Festival ini menghadirkan pendekatan wellness yang berpijak pada nilai-nilai budaya Jawa, bukan sekadar mengadopsi tren global. Di bawah kepemimpinan GKR Bendara sebagai Ketua Panitia, JCWF 2025 memiliki legitimasi budaya dan daya tarik yang kuat baik di tingkat nasional maupun internasional.

JCWF memainkan tiga peran utama:
a.Katalis Branding dan Diplomasi Budaya: Mempromosikan narasi bahwa Yogyakarta adalah pusat wellness berbasis budaya (cultural-based wellness origin), sehingga memperkuat daya saing destinasi.
b.Platform Sinergi Ekosistem: Festival menjadi ruang kolaborasi antara Keraton, pemerintah, asosiasi pariwisata, akademisi, pelaku industri, kreator seni, dan komunitas untuk mengembangkan produk, acara, dan paket wisata wellness yang terpadu.
c.Edukasi Publik dan Transformasi Mindset: Menggeser persepsi wellness dari sekadar gaya hidup menjadi nilai budaya dan kebutuhan peradaban modern, guna membangun masyarakat yang berimbang dan berkesadaran.

6. Arah Pengembangan dan Dampak Jangka Panjang
Dengan penguatan acara seperti JCWF,DIY berpotensi membangun:

· Roadmap Pengembangan Cultural Wellness Tourism 2025–2030,
· Standardisasi produk wellness berbasis budaya,
· Jogja Cultural Wellness Hub sebagai pusat riset, inovasi, dan kolaborasi,
· Paket wisata wellness integratif di tingkat kabupaten/kota.
DIY memiliki potensi kuat untuk menjadi Rujukan kultural Wellness Destination tingkat nasional, bahkan Asia.

Penguatan posisi ini membutuhkan sinergi lintas pemangku kepentingan, edukasi publik, dan inovasi berkelanjutan. JCWF 2025 hadir bukan hanya sebagai sebuah festival, tetapi sebagai sebuah gerakan transformasi budaya wellness yang selaras dengan karakter, jati diri, dan masa depan pariwisata Yogyakarta.

(Ome)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *