Warga Perumahan di Bondowoso Bayar PBB dengan Sampah
Bondowoso, sadap99.com
Warga Perumahan Istana Bondowoso Ceria, Kelurahan Badean, Kecamatan Bondowoso, membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dengan cara menabung sampah anorganik seperti kardus dan botol.
Program ini bernama “Bajak Sawah” (Bayar Pajak dengan Sampah). Nilai sampah tersebut kemudian dikonversi menjadi rupiah untuk melunasi PBB, dengan harga sekitar Rp1.000 hingga Rp1.500 per kilogram sampah anorganik.
Menurut Dedi Dwi Yanto, pengurus bank sampah di perumahan tersebut, program ini merupakan inisiatif warga yang memiliki semangat sama untuk mengatasi masalah sampah yang berserakan. Sistemnya, warga menabung sampah anorganik sebulan sekali yang kemudian dikonversi menjadi uang.
Hasil penjualan sampah ini digunakan untuk membayar PBB. Pembayarannya diurus oleh pengurus bank sampah setempat, dan warga hanya perlu membawa Nomor Objek Pajak (NOP) PBB. Jika dana dari penjualan sampah kurang, maka keluarga tersebut mencatat “hutang sampah” yang harus dilunasi di kemudian hari.
Pendapatan rata-rata dari bank sampah ini lebih dari Rp50.000 per bulan. Di Perumahan Istana Bondowoso Ceria yang memiliki 100 kepala keluarga (KK), saat ini sudah 60 KK yang menjadi nasabah bank sampah.
Rahmat Hidayat, Ketua RT.36 RW.07, mengatakan bahwa pengelolaan sampah di perumahannya telah berjalan selama satu tahun. Tidak hanya untuk membayar PBB, sampah warga juga dipilah menjadi organik dan anorganik. Sampah organik dikelola menjadi pupuk organik cair yang dipasarkan dengan harga Rp15.000 per 500 mililiter, dan ada juga yang diolah menjadi lilin aromaterapi seharga Rp20.000.
Sebagian pupuk organik cair digunakan sendiri oleh Kelompok Wanita Tani di perumahan untuk memupuk tanaman seperti pepaya dan sayur-mayur yang ditanam di lingkungan tersebut.
Edukasi pengelolaan sampah juga diberikan hingga ke anak-anak. Mereka diajak untuk memilah sampah dan menjualnya ke bank sampah.
Menurut Hans, awal mula bank sampah ini bukan untuk produksi, melainkan sebagai gerakan warga untuk membiasakan mengelola sampah secara mandiri. Dengan demikian, warga dapat memenuhi kebutuhan pangan dan pupuk sendiri, serta mengelola sampah dari hulu hingga hilir.
Ke depan, pihaknya berharap adanya dukungan edukasi dan pelatihan dari pemerintah, termasuk fasilitas tempat pengelolaan. Sampai saat ini, bank sampah masih menempati rumah warga.
· Fredd –
