JATIM

Nobar Edukatif atau Bisnis Terselubung?

LUMAJANG, Sadap99.com

Sebuah kegiatan nobar (nonton bareng) film bertema cyberbullying untuk pelajar SMP di Lumajang, di permukaan, terlihat sebagai inisiatif yang edukatif dan relevan dengan zaman. Namun, di balik kemasan “edukasi” itu, tersembunyi aroma komersialisasi pendidikan yang kian nyata.

Buktinya?
Siswa yang awalnya hanya”dianjurkan” untuk menonton, dalam praktiknya justru terkesan diwajibkan. Mereka diharuskan membeli tiket seharga Rp25.000 dengan dalih untuk membuat sinopsis film sebagai tugas sekolah. Ini memunculkan pertanyaan mendasar: sejak kapan tugas belajar harus dibayar dengan tiket bioskop?

Padahal, pihak berwenang seperti Kominfo, Kemen PPPA, dan KPAI sama sekali tidak mengeluarkan regulasi yang mewajibkan kegiatan nobar ini. Yang ada hanyalah imbauan, bukan instruksi wajib—apalagi yang berbasis transaksi finansial. Sayangnya, imbauan sukarela itu berubah menjadi semacam “kewajiban tak tertulis” di lapangan.

Sejumlah orang tua dengan nada kesal bercerita bahwa anak-anak mereka merasa terpaksa ikut karena takut nilainya akan dikurangi.

“Kalau tidak nonton, katanya tidak bisa bikin tugas sinopsis. Jadi mau tak mau beli tiket,” ujar salah satu wali murid di Lumajang.

Aktivitas yang mengusung nama edukasi justru menciptakan tekanan psikologis dan beban ekonomi bagi siswa dan keluarganya. Ironisnya, semua ini dibungkus rapi dengan narasi mulia tentang “kesadaran digital” dan “anti-bullying”.

Andai benar tujuannya adalah membangun kesadaran akan bahaya cyberbullying, bukankah banyak cara lain yang lebih bermartabat dan tanpa biaya? Sekolah bisa memutar film edukasi gratis dari kanal pemerintah, mengadakan diskusi kelas, atau mendatangkan narasumber ahli literasi digital. Tak perlu jual tiket, tak perlu gunakan jasa EO.

Pewarta: bkt

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *