OPINI

Kemerdekaan dan Pendidikan Nasionalisme: Mempersiapkan Generasi Z sebagai Penjaga Bangsa

OPINI: REFLEKSI KEMERDEKAAN
Kemerdekaan dan Pendidikan Nasionalisme: Mempersiapkan Generasi Z sebagai Penjaga Bangs

Yogyakarta – Sadap99.Com
Merdeka bukan sekadar bebas, melainkan sebuah tanggung jawab. Generasi Z—generasi yang lahir, tumbuh, dan besar di era digital serta media sosial—kini memikul tugas menjaga kemerdekaan dengan cara mereka sendiri. Pertanyaannya: siapkah pendidikan kita menempa mereka?

Kemerdekaan yang dirayakan setiap 17 Agustus bukan sekadar upacara tahunan, seremonial, atau simbol belaka. Lebih dari itu, ia adalah pengingat bahwa kebebasan yang kita nikmati hari ini dibayar mahal oleh para pejuang dengan darah dan pengorbanan. Kemerdekaan bukan akhir perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab besar: menjaga persatuan, meneguhkan nasionalisme, dan memastikan bangsa ini terus melangkah ke depan. Tugas ini kini berada di pundak generasi muda, terutama Generasi Z.

Generasi Z (lahir 1995–2010) tumbuh dalam dunia serba digital. Mereka terbiasa dengan kecepatan teknologi, derasnya arus informasi, dan ragam budaya global. Di satu sisi, mereka cerdas, kritis, dan kreatif; di sisi lain, mereka rentan terhadap krisis identitas nasional. Jika pendidikan tidak mampu menanamkan nasionalisme dengan cara yang relevan, Generasi Z akan kehilangan akar kebangsaannya.

Nasionalisme Perlu Dihidupkan
Bung Karno pernah mengingatkan, *”Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah bangsanya sendiri.”* Pesan ini terasa aktual di tengah generasi yang kerap lebih akrab dengan budaya populer global daripada sejarah perjuangan bangsanya. Nasionalisme tidak cukup diajarkan melalui hafalan, melainkan perlu dihidupkan dalam praktik sehari-hari.

Pendidikan adalah Tuntunan Hidup
Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional, menegaskan, *”Pendidikan adalah tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak, agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.”* Pandangan ini mengingatkan bahwa pendidikan nasionalisme harus menuntun Generasi Z menjadi manusia merdeka—bebas berkreasi, namun tetap berakar pada nilai-nilai kebangsaan.

Nasionalisme Tidak Lagi Sekadar Doktrin
Di era digital, pendidikan nasionalisme tidak bisa berhenti di ruang kelas. Ia harus masuk ke ruang-ruang yang akrab bagi Generasi Z: media sosial, konten kreatif, aktivitas komunitas, film pendek, podcast, hingga gerakan peduli lingkungan. Nasionalisme tidak lagi sekadar doktrin, melainkan gaya hidup yang mengakar dalam keseharian mereka.

Generasi Z Harus Dipersiapkan
Kemerdekaan akan tetap kokoh jika dijaga oleh generasi muda yang sadar identitas. Generasi Z harus dipersiapkan bukan hanya sebagai konsumen budaya global, tetapi juga sebagai agen perubahan yang membawa Indonesia melangkah ke masa depan.

Merdeka adalah warisan, tetapi juga janji. Kini saatnya Generasi Z tegak berdiri, menghidupi nasionalisme, dan memastikan sang merah putih terus berkibar—bukan hanya di langit, tetapi juga di hati mereka.

**Karel Martinus Siahaya**
Dosen Sekolah Tinggi Agama Kristen Teruna Bhakti, Yogyakarta

*(Ome)*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *