Transformasi Pariwisata: Dari Kompetisi Menuju Kolaborasi dan Spiritualitas
YOGYAKARTA – SADAP99.COM
Dalam Bimbingan Teknis Pengelolaan Destinasi Wisata yang diselenggarakan DIY, Sekretaris Umum DPD PUTRI DIY, Agus Budi Rachmanto, menekankan pentingnya transformasi paradigma bisnis pariwisata dari kompetisi menuju kolaborasi dan integrasi spiritualitas. Acara berlangsung di Desa Wisata Kalakijo, Bantul, Selasa (12/8/2025).
Pergeseran Paradigma Pariwisata
Agus menjelaskan evolusi bisnis pariwisata melalui tiga fase utama:
-
2000 (Zero Point 3): Fase kompetisi berbasis keunggulan individu.
-
2010 (Zero Point 4): Awal integrasi teknologi.
-
2020 (Zero Point 5): Era kolaborasi, keterhubungan, dan nilai spiritual.
“Ini bukan sekadar perubahan teknologi, tapi cara pandang dan kesadaran dalam berbisnis,” tegas Agus.
Dari Kompetisi ke Kolaborasi
Agus mencontohkan kesuksesan platform seperti Gojek dan Traveloka yang menguasai pasar melalui jejaring, bukan kepemilikan aset fisik.
“Dulu kita bersaing, sekarang harus bersinergi. Kunci sukses kini terletak pada kolaborasi dan nilai tambah,” ujarnya.
Keterhubungan dan Spiritualitas
Di era digital, “everything connected” tidak hanya berlaku untuk teknologi, tetapi juga hubungan antarmanusia dan nilai spiritual.
“Wisatawan tak hanya mencari tempat, tapi pengalaman bermakna. Cerita dan energi di balik destinasi menjadi daya tarik utama,” jelas Agus.
Integrasi Sains dan Spiritualitas
Agus mendorong pelaku pariwisata menggabungkan aspek materi dan non-materi:
“Fokus pada materi saja membuat kita kerja keras. Dengan spiritualitas, kita bisa kerja lebih cerdas dan bermakna.”
Pariwisata Masa Depan
Acara ini menjadi refleksi bagi pelaku wisata untuk menyambut perubahan dengan:
✔ Kolaborasi menggantikan ego sektoral.
✔ Pengalaman bermakna (meaningful experience) sebagai nilai jual.
✔ Keseimbangan antara sains dan spiritualitas.
“Jika tidak beradaptasi, kita akan tertinggal,” pungkas Agus.
(Ome/Sadap99.com)
